Derita Pengguna Jalan di Batam
24 Apr 2008 Catatan Lepas
Pagi ini Batam kembali diguyur hujan. Bagi saya, yang kebetulan menggunakan mobil, cuaca begini tentu tidak begitu mengganggu. Sebab, kalau di luar hujan, maka AC tak perlu distel terlalu dingin. Cukup segaris. Itupun sudah menusuk dinginnya. Bukan maksud saya AC mobil masih bagus, namun baru saja ditambah mafirionnya, eh, ion maksudnya.
Namun bagi pejalan kaki atau pengguna motor, cuaca begini amat menyiksa. Bukan saja karena harus berbasah-basahan, namun kondisi jalanan berlubang di semerata Kota Batam, membuat mereka terkadang keciprat air berlumpur dari mobil yang menggilas jalan. Bisa dibayangkan bagaimana penampilan mereka di tempat kerja kalau sudah tersiram air sekelas comberan itu. Huuh!
Begitulah nasib pengendara di Batam beberapa tahun terakhir. Jalanan semakin tidak mulus, banyak lubang di mana-mana. Tidak saja di pinggir kota, sampai di depan hidung Pemko Batam dan Otorita Batam pun kondisinya sama: berlubang, bergelombang, dan tentu saja tidak mulus.
Alasan mereka, baik OB maupun Pemko, sama saja: anggaran terbatas, jadi harus dibuat skala prioritas. Yup. Mungkin juga prioritas di sekitar perumahan OB atau Pemko, atau yang banyak pejabatnya bermukim di sana. Atau alasan lain, sedang mengusahakan pembangunan lampu penerangan jalan umum, meskipun pajaknya sudah dinaikkan. Atau lainnya, mereka (OB dan Pemko) harus menyelesaikan drainase dulu, baru nanti memperbaiki aspal dengan melakukan overlay, pengaspalan ulang. Trus, begitu saja alasan mereka, sepanjang tahun, saban tahun, bahkan setelah penguasanya berganti dari si A ke si B, lalu ke si C.
Kalau ditarik garis dari Batam Center, kondisi jalan yang labil, bergelombang, dan berlubang, bisa dilihat di depan Mega Mall, persisnya di depan terminal feri internasional, lalu di bundaran OB, terus di depan Kantor Pos, di simpang Restoran Sanur, terus ke arah Simpang Jam, meliuk-liuk dan badanpun menari jika melewatinya. Belum lagi kalau permukaan jalan seperti ditempel dengan koyok, persis kalau orang lagi sakit gigi atau pusing kepala. Cobalah raba wajah Anda, pasti usapan pada koyok itu tidak akan membebaskan tangan Anda meraba wajah Anda yang mulus itu. Begitulah kebanyakan kondisi jalan di kota yang menjadi pintu masuk turis terbesar kedua di Indonesia ini.
Meninggalkan Simpang Jam ke arah Baloi Center, kondisinya sama saja; bergelombang dan berlubang. Sepanjang simpang Baloi Center hingga ke Simpang Penuin, begitulah kondisinya. Lalu, alau belok ke kiri, maka lubang yang sangat berbahaya bagi pengendara akan Anda temui di sepanjang jalan hingga ke SPBU, bahkan terus masuk ke jalan menuju Tiban. Demikian pula kalau ke kanan, ke arah Top 100 Penuin, kondisinya sama saja: buruk, bergelombang, dan berlubang. Ohya, saya tak sampai hati menampilkan foto-foto kondisi jalan itu; takut nanti jadi pemenang foto lingkungan(terburuk), ha..ha…
Itu baru sekelumit. Dan saya pasti akan bosan kalau menggambarkan semua kondisi jalan yang ada di kota ini. Dijamin, Anda pun akan bosan membaca tulisan saya ini. Baiklah, saya akan akhiri catatan ini, sambil membayangkan para pejabat itu (baik pejabat Pemprov, Pemko, dan OB) berkeliling Batam sambil naik metrotrans, biar mereka rasakan gedubak-gedebuk ketika roda kendaraan nyangkut di setiap jalan berlubang itu. Sungguh tak nyaman, Bos!!!***



Leave a Reply