Dari Kelekatu ke Bulu Mata Susu

: dua RD satu K

Ketika kelekatu tertumbu di batu,
siapakah gerangan yang mau menunggu,
memungut percanya di berbagai penjuru?
Atau syahdan pertautan itu berbulu mata susu?

Sebegitulah pesan pendek dari kotak ajaib tulalit yang saya hantarkan ke sahabat saya, adik saya, Ramon Damora, malam menjelang si bulat hitam berdentang ke sepuluh jari. 21.55 belahan barat darjatnya.

Lalu, Si Bulu Mata Susu itu pun menjawab, mengejek saya, entah iseng, entah memang sedang berlaku “kurang ajar” terhadap saya:
“…he..he, pasti lg terkena sindrom puitis ni…”

Ya, betul, wahai si pemberi sperma demi sebentuk Jilan, saya sedang sindrom, sindrom terhadap dunia kata yang kerap membuat darah saya berdesir ketika bersidekap dengannya.
Lalu, saya katakan lagi padanya, RD:

“tak tahulah mon, ingin rasanya searas dengan para kalian si penyair nyinyir dan royal kata itu, ha…ha…”

Dua kitab kumpulan sajak, Perjalanan Kelekatu dan Bulu Mata Susu, benar-benar telah memantik perisa yang jarang saya dapatkan selama ini. Keduanya begitu bersahaja, yang pertama penuh dengan pengabaran-pengabaran dan penyerahan kepada takdir diri, kepada dhaif yang tak mungkin terelakkan. Sementara yang kedua, memberi harapan bahwa kata, kalimat, diksi, dan untaian kata, menjadi begitu memikat ketika direkatkan satu dengan yang lainnya, jauh meninggalkan kewajiban kata dan kalimat itu sendiri kepada buhulnya.

Ya, Rida K Liamsi, si penyair pelit karya, namun kaya imajinasi, luahan kata, dan royal dengan khasanah Melayu dulu kala, telah menembus ke selaput ruang dengan mahakaryanya. Kata demi kata yang dituangkannya di dalam sajak, sungguh indah tidak saja dibaca, tapi juga dicerna.

Betul, dan Rida telah:
“jadi…paus biru, karena bisa menjelajah lautan
Melawan badai, menenggelamkan perahu

Bulang Cahaya yang lahir dari rahimnya pun telah menggetarkan tiang pancang kemelayuan saya yang pernah diragukan orang cerdik tak pandai di rantau ini. Ya, hubungan benci tapi rindu, masam-masam manis antara Melayu dan Bugis di novel itu, telah memantik semangat kemelayuan saya, membuncahkan benci yang tak terlafaz kepada teluk sempadan yang kadang tak mengerti bagaimana hubungan Melayu-Bugis itu dulu dibangun.

Pun Ramon. Budak tengil itu telah mengirim isyarat kepada sesiapapun bahwa kata tak perlu tunduk kepada nilai “leterlet” semata, namun cukup direkatkan saja pada sebuah bingkai berwarna tak sama. Maka, jadilah dia rangkaian kata, untaian kalimat, yang, sungguh sayang kalau dibuang.

Betul, Mon. Saya memang sedang dilanda sindrom puitik, namun tetap saja tak bisa menapak ke arah mana kalian berpijak. Oh ya, tolong tumpangkan kagum dan takzimku pada gurumu, guru kita, “si layang-layang yang masih saja terus mengigal” itu.***

4 Responses to “Dari Kelekatu ke Bulu Mata Susu”

  1. RD Says:

    layak ditanyakan: mengapa penerbitan buku RD sejadwal dengan buku RDK ? sebagai anak buah yang baik, RD harus menangkap tanda-tanda zaman bahwa RDK sesungguhnya hendak membocorkan sebuah isyarat: RD-lah kelak yang pantas menggantikannya…ups!


  2. candra ibrahim Says:

    iya mon… itu juga yang kau ucapkan sebelum membaca puisi di Gedung Aisyah Sulaiman, Ahad malam lalu di Tanjungpinang… ha..ha…


  3. mur Says:

    please deh mon, jangan Gr lah yau. banyak gaya ramon tu bang. janji nak kirim bulunya tu, eh dah dikasih alamat tak nyampai2 juge. takutnya bulunya nyangkut di perkampungan aborigin, he he


  4. candra ibrahim Says:

    ha..ha… betul mur… apalagi aborigin memang terkenal banyak bulu… jadi, bulu ketemu bulu, tak sampai2 barang tu, hahaha


Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>