makna
5 Nov 2008 seolah puisi
ketika larut membungkus malam,
kubertanya pada akal,
adakah sisa embun semalam?
padahal petang telah bingkas menebas secebis masygul?
hai puan yang dilanda asmara,
dapatkah hiruk mengebat sempadan kata
meski telah kulabuhkan peluh di kita sesama?
mungkin ini hari tak lagi bermakna
sesiapa menyapa sesiapa bertanya
tapi tetap saja tak bermuara katakata…
batam, okt 2008
sendiri meragi
19 Jun 2008 seolah puisi
ingat tidak, ketika narsismu mengangguku…
katamu…. itu penting
sepenting perempuan berharap bunting
tapi tak kacak di dedaun kering
sebab ranting tak rindukan tebing
katamu kau plural, prodemokrasi
tapi nepotismemu terpacak
segak di antara muak semuak-muak
memantik di antara bau apak
katamu kau sayangiku
tapi dendammu telah membatu
tak hendak berkata tentang aku
sebab mindamu makin kuragu
kini…
marahku telah meragi
menukik ke selasela sendi
merecup ke sumsum dan nadi
hingga….sendiri…
lalu berdiri aku
mencoba mengecup putingmu
tapi lagilagi
kecutmasam ragimu
menekukku ke dalam ragu…
Di Bibir Luka
6 Apr 2008 seolah puisi
di pucukmu, clara…
gadisku melepas stagen warna gelapnya
hingga coklat sekelilingmu membentuk siluet
dari lumpurlumpur kering berjelaga
tak bisa dia bersembunyi
sebab pinggulmu terlalu terhampar tiada tepi
di parasmu, clara…
lenguhan bancibanci kota
kadang senyap, tak lupa menguap
putingmu bagai kapas, tertawa…
tersibak bagai ranting yang lepas dari buhulnya
tak tumbuh di paras batuan cadas
hingga aku tersadai di bawah ketiakmu
terdedah bergelantung pohonpohon jelutung
lama sekali memandang tubuh tak berbenang
kali lain di bukitsenyum…
hidungku mengendus masam tapioka
mengalir hingga ke bukit-bukitmu
lahar bening…kadang coklat pula…
padahal kita baru saja mereguk sebotol wine
yang kita pungut dari tepi seiladi
yang warnanya sama dengan apa yang kita buncahkan tadi
tapi tak kulihat sebarang anggur berubah warna
hanya lelehan bening dari celahcelahmu
hingga akhirnya, kau tak lagi senyum seperti namamu
lalu, ke manakah lagi perduperdu hendak berpacak?
ke mana pula kelayang mengepak terbang?
jua di mana musafir kan mencari air?
bukankah seluruh hamparan hijau semakin congkak lalu berdarah luka? luka siapa otorita?
prolog kelemumur
3 Apr 2008 seolah puisi
mereka bilang cinta kita ‘tlah hilang
padahal masih terang “ayat-ayatnya”
mereka juga bilang kita sekarat
padahal tak berujung kita punya syahwat
lalu kita pun turun ke lembah-lembahnya
menyaru bagai pinus bersayap pada kematian
bagai kelemumur bingkas dari rebahnya
episode tanjunguma
5 Mar 2008 seolah puisi
nun di tepi tanjunguma
kun….segalanya bermula
pias lelehan lumpur
terjerembab di kaki kecubung
tak kulihat sebarang ketam dan kerimak
sebab kau pun sedu sedan tersedak
bening parasmu menyentak setiap jejak
uhhh…
nafas berpagut serempak
perlahan, naik dan terus naik…
melikui hingga ke pucuk getah
bergemuruh ke puncak ghairah
puah…!
aku tlah kalah setiap kali kita naik
adrenalin memekak sejurus memekik
tapi…
tak jua kubancuh dalam nestapa
meski duka…lara..berjela jela…
hmmm…terlalu (kata khak rhoma)…
apa hendak dikata…
kun kedua melenting redamkan sendi
tercerabut hingga ke tunggangnya
hingga kita pun smakin dalam
menokah….ke celah delima merekah
remuk…tentu saja ruam menusuk
sehingga yang tersisa itu sahaja!
tertawa-nyaringlah-lagi nak…
24 Dec 2007 seolah puisi
nak…
semalam kau mengigau
igau sebenar-benar igau
ibumupun tak bertanak
meski lambung ayah becekau
perutmu tak hendak melumat
karena sakitmu belum tamat
aku bingkas memelukmu erat
meski malam terasa lambat
di sini…
di rantau ini,
gelak tawa ceriamu
berdenyar…
celotehmu…
ba…ba…ba…
bu…bu…bu…
hu…..
nak…
meski terasa musykil
aku hendak mengumpat
mengumpat pancaroba ini
yang membuat nelayan tak berani melaut
dan menghempas lunas kapal penuh lumut
aku tahu salahku membiarkanmu
bermain ombak dan remis di pantai itu
sehingga…
kini kau tersadai di bilik yang dingin
nak…
tarik saja rapat-rapat selimutmu
tak usahlah menangis lagi
sebab aku sudah mereguk airmu
air yang membuncah ketika jarum-jarum jahanam itu menusuk nadimu
dan mengerat daging merahmu…
ibumu pun ‘tlah letih…
maka tertawa nyaringlah untuknya
untuk kesembuhanmu
untuk penawar luka batinku…
Kudedikasikan buat anakku, Naufal, yang terbaring di rumah sakit, semoga Allah SWT segera “mengembalikanya”.
ke balik karang
17 Dec 2007 seolah puisi
pelan…
kupagut tangkai perdu dalam dekap
bunganya memulas wajahku
semakin lama semakin sembab
semalam…
tak sepicingpun lelap bisa kulabuhkan
padahal derak igaku…
lemah letihku…
bagai desau daun enau di laman belakang
pagi ini…
lenggak budak-budak tepi karang
mengigal bagai badai utara
menghempas tiap jengkal jala
mereka bersuka
mengilai
telanjang pula
padahal…
ruam legam ceceran minyak
masih terdedah ke hala sampan tua
menimbun paras laut
menikam ke balik karang


