Casino Singapura

TEPAT pukul 12.18, Ahad (14/2) waktu setempat, sebuah casino dibuka di Sentosa, Singapura. Ini sekaligus menandai dimulainya operasional sebuah kawasan wisata terpadu di negara pulau tersebut. Diperkirakan, pertengahan Maret mendatang akan dilakukan grand launching. Sedangkan satu casino lagi di Marina Bay, juga akan beroperasi April mendatang.

Pembukaan satu casino dan satu lagi April mendatang itu, sekaligus juga meruntuhkan “janji” yang pernah diucapkan Lee Kwan Yew (mantan PM Singapura) kepada BJ Habibie (arsitek Batam), puluhan tahun lalu. Saat itu, Lee “menyetujui” bahwa Singapura tidak akan melegalkan perjudian sepanjang Indonesia juga tidak melakukannya. Perbincangan Lee-Habibie ini menjadi penting, karena Singapura dan Batam bertetangga amat dekat.

Namun, setelah Lee tidak lagi menjadi PM, yang kemudian kini digantikan puteranya BG Lee, Parlemen Singapura akhirnya menyetujui legalisasi perjudian di negara industri paling maju di Asia tersebut, setelah melarangnya lebih dari sepuluh tahun. Dua proyek besar disiapkan: Sentosa dan Marina Bay yang diarsiteki Genting Group dan perusahaan Las Vegas.

Lee sendiri saat ini tercatat sebagai menteri mentor di negara tersebut, sementara BJ Habibie tidak lagi di pusat kekuasaan RI. Konon, karena negara Lee itu melegalkan perjudian, Habibie sempat “protes”, karena tak sesuai “kesepakatan” terdahulu. Tapi, Habibie bukanlah siapa-siapa sekarang. Jangankan melarang negara lain melegalkan judi, rencananya akan membubarkan Otorita Batam tahun 2008 saja, tidak diapik oleh Pemerintah Indonesia. Padahal, dalam rencana Habibie, setelah 26 tahun, mestinya pemerintah daerahlah yang mengelola Batam, Rempang, dan Galang.

Jauh sebelum Singapura membuka casino, beberapa pengusaha di Batam mulai melakukan tindakan antisipatif. Di antaranya, Grup Citra Buana yang dimotori Hartono, meluncurkan proyek pertokoan yang dilengkapi mal dan hotel di Harbour Bay. Demikian pula dengan kelompok Golden View dan Arsikon. Mereka berharap, setelah casino dan komplek wisata terpadu sudah full operated, akan terjadi limpahan wisatawan dari Singapura ke Indonesia, khususnya Batam.

Namun, bukan Singapura namanya kalau tak pandai menutup rapat-rapat pintu keluar dari negara mereka ke Indonesia. Lihatlah ketika balap Formula One digelar di sana tahun lalu, Singapura menyediakan kapal pesiar berukuran besar sebagai hotel terapung bagi wisawatan yang meluber saat ajang adu balap bergengsi itu. Inilah salah satu yang membuat Dinas Pariwisata Batam kecele karena terlalu berharap akan terjadi limpahan wisawatan dari Singapura.

Bagaimana dengan sekarang, setelah dibukanya satu casino, lalu disusul grand opening kawasan wisata terpadu Maret dan April mendatang? Apakah Singapura akan berpangku tangan saja, lalu membiarkan limpahan wisawan yang berkunjung ke negaranya melimpah ke Batam atau Bintan? Tak usahlah terlalu berharap. Sebab, negara pulau itu sangat mahir dalam melakukan jualan. Lihatlah iklan dan promosi mereka mulai intens wara-wiri di media elektronik pusat dan koran lokal belakangan ini. Pastilah mereka sudah menyiapkan “kandang” agar wisawatan yang berkunjung ke tempat mereka tidak sampai meluber ke Indonesia. Singapura, gitu loh!

Jadi, tinggallah Indonesia, dalam hal ini, Batam dan Bintan, kebagian ampasnya saja. Duit para penjudi Indonesiapun akan kencang mengalir ke meja-meja casino negara itu. Sebab, di meja-meja casino di Genting Highland (Malaysia) saja, sangat mudah kita temui wajah-wajah khas Indonesia maupun yang mereka yang bermata sipit namun medok dengan logat Jawa dan Sumatera. Artinya, rupiah nanti akan semakin deras mengalir keluar negeri. Bagi Indonesia, potential loss-nya akan semakin besar dari potensi pajak, retribusi, dan potensi lapangan kerja nonformal lainnya.

Soal dibukanya casino yang juga diotaki Genting Group di Singapura, nampaknya saya harus berhati-hati menulisnya. Sebab, di negara ini, banyak sekali di antara kita yang suka berpikir naif, bahkan cenderung munafik. Jika bicara judi, seolah-olah kita bicara soal moral dan akhlak. Judi adalah haram, seribu persen saya setuju. Tapi ketika pelacuran, yang lebih tinggi kadar dosanya, masih tumbuh subur di negeri ini, bahkan “dilegalkan”, mengapa bicara judi saja kita menjadi sangat naif? Persoalannya menjadi agak terang, jika kemudian ada regulasi ketat yang mengaturnya. Bahwa judi tidak boleh dilegalkan di kawasan padat penduduk dan harus dilokalisir ke tempat khusus, tentulah tergantung aturan atau regulasinya. Lha, sekarang saja, judi masih seperti api dalam sekam; dia tumbuh melalui internet, transaksi via SMS, bahkan dibungkus dalam bentuk ketangkasan dan undian berhadiah. Trus, itu semua apa namanya? ***

Catatan: tulisan ini sudah dimuat di Harian TANJUNGPINANG POS, edisi Rabu (17/2/2010).

2 Responses to “Casino Singapura”

  1. HOWARD Says:


    PillSpot.org. Canadian Health&Care.No prescription online pharmacy.Best quality drugs.Special Internet Prices. High quality drugs. Buy drugs online

    Buy:Accutane.Actos.100% Pure Okinawan Coral Calcium.Petcam (Metacam) Oral Suspension.Zyban.Synthroid.Valtrex.Arimidex.Zovirax.Mega Hoodia.Human Growth Hormone.Retin-A.Nexium.Lumigan.Prednisolone.Prevacid….


  2. ceramic Says:


Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>