Carut-marut Berita dan Biaya Mati Lampu
21 May 2008 Catatan Biasa
Sambil menunggu dokter internist yang akan memeriksa keluhan saya, Senin lalu, di sebuah rumah sakit, saya nonton siaran TV di rumah sakit itu. Marak aksi unjuk rasa di mana-mana. Di Jawa Tengah, Jakarta, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, dan Medan. Tapi Batam tak nampak dalam TV, karena mungkin tak disiarkan TV atau memang di sini orangnya lebih realistis, sehingga menganggap demo adalah perbuatan sia-sia, karena akan mengganggu jam pekerjaan mereka. Pasalnya, penduduk Batam kebanyakan pekerja yang pasti akan dikawal jam kerjanya oleh majikan mereka, sang pengusaha.
Di samping saya, duduk seorang pasien yang juga menunggu dokter seperti saya.
“Saya kolestrol, tapi sudah banyak minum obat, gak berkurang juga. Mungkin ada yang lain, makanya saya mau cek ke dokter internist ini,” katanya membuka cerita.
Layaknya orang Sumatera, kami tak perlu basa-basi memperkenalkan diri satu sama lain. Dia yang dari Tapanuli Selatan, saya tahu dari logatnya, dan saya dari tanah Melayu ini, lalu terlibat diskusi ringan. Mengalir begitu saja.
“Indonesia ini susah. Di mana pendemo itu, gak ada yang benar. Mereka gak tahu bahwa pemerintah memiliki pilihan yang sulit untuk tidak menaikkan harga BBM. Salahnya, rencana kenaikan itu dilakukan menjelang Pemilu, yah, banyaklah politisnya,” kata dia.
Saya lebih banyak diam, sesekali menimpali.
“Iya nih. Saya malah gak tahu sakitnya apa. Tahunya batuk udah dia minggu, coba makan obat apotek, gak sembuh juga. Makanya mau periksa dalam, siapa tahu ada masalah”.
Dia mengangguk. Matanya tetap ke arah televisi. Sementara istri saya melirik, seakan mengatakan bahwa nomor antrean saya masih lama.
“Kalau saya, gak mau ikut-ikutan demo. Ganggu kerjaan saya di perusahaan. Kita ini datang ke Batam untuk kerja, bukan untuk demo yang begitu-begitu. Buat apa? Dulu demo ATB, air naik juga. Trus demo PLN, memangnya nanti gak bakal naik? Mau cari air sama listrik ke mana kita? DPRD katanya dulu nolak, eh, tahunya diam waktu ATB dan PLN mau naikkan tarif. Mereka itu kan politisi, ada kepentingan untuk Pemilu 2009. Buat apa kita ini repot-repot demo?” katanya.
Saya tersenyum mendengar ocehan laki-laki berlogat Medan itu. Di matanya, media massa, telah memberikan kontribusi bagi semakin carut-marutnya persoalan di negeri ini. Beruntung saya tidak perkenalkan bahwa saya juga dari media massa, sehingga laki-laki itu lempang saja bicaranya. Tanpa beban.
“Coba lihat TV itu, masalah di Jawa sana, dibawanya ke Batam. Padahal, kita di Batam pun punya masalah yang tak kalah berat. Semua pemberitaan sepertinya Indonesia ini mau kiamat saja. Tak ada harapan. Semua berita di TV isinya penderitaan. Seolah Indonesia mau kiamat. Gak ada berita-berita baik lagi disiarkan. Gak ada berita-berita prestasi, berita pertanian, berita baik. Semuanya berita penderitaan. Seolah kita ini sudah tamat sebagai bangsa!”
Laki-laki yang saya taksir berusia hampir 40 tahun itu terus saja bicara. Agak pelan, mungkin takut pasien lainnya terganggu.
Saya tak mau menanggapinya, karena saya pun tak tahu apa yang mau ditanggapi. Semua yang dikatakannya seolah dibenarkan oleh alam bawah sadar saya. Bahwa persoalan di Indonesia hari ini adalah terlalu banyak peristiwa yang diblow-up oleh media massa secara tidak proporsional. Satu kasus kelaparan di tanah Jawa, diblow-up hampir oleh seluruh stasiun televisi yang pusatnya di Jakarta (di tanah Jawa), lalu masuk ke kamar-kamar pribadi kita di mana saja di negeri ini. Seolah, seperti itulah Indonesia hari ini: penuh penderitaan, tak ada harapan, akan bangkrut!
“Coba Bapak bayangkan kita di Batam. Sekarang listrik mati tiap hari. Berjam-jam. Kita dan anak-anak kepanasan, karena memang udara di Batam ini panasnya bukan main,” katanya.
Belakangan, dari hasil diagnosa dokter internist, memang terjadi alergi para bronchitist saya. Penyebabnya, kata dokter, udara yang buruk serta cuaca Batam yang tidak sehat. Ini masih ditambah asap rokok yang saya telan selama ini, he..he..he…
“Nah, karena anak kepanasan, terpaksalah kita bawa ke tempat lebih nyaman. Di Batam, tempat nyaman itu paling ke mal. Nah, kalau ke mal, itu kan duit lagi. Paling tidak ongkos metrotrans atau beli bensin. Di mal, belanja lagi. Kan duit semua itu,” katanya lagi.
“Kalau dalam sebulan ada empat kali ke mal, hanya karena cari tempat yang adem akibat mati lampu di rumah kita, katakanlah sekali ke mal kita habiskan Rp50 ribu, sebulan sudah Rp200 ribu kita keluarkan. Itu baru untuk kebutuhan mencari tempat nyaman kalau listrik mati saja. Nah, belanja di luar itu, untuk kebutuhan rumah tangga, sudah berapa?” tanya pria itu.
Saya manggut-manggut. Dalam hati, hebat juga laki-laki di samping saya itu. Dia menghitung pengeluaran sampai sedetail itu.
“Kalau dibandingkan, berapa biaya tambahan yang harus kita keluarkan karena lampu PLN mati bergiliran itu? Mungkin jumlahnya lebih besar dibanding rencana kenaikan tarif listrik itu sendiri. Tapi, karena ini mau Pemilu, anggota DPRD itu sok-sok menolak, biar dibilang membela rakyat. Padahal, kita rakyat inilah yang paling kena dampak pemadaman bergilir itu. Biaya cari adem meningkat, belum lagi kalau ada alat elektronik yang rusak, sudah berapa itu tambahan untuk perbaikan?” tanya laki-laki yang memelihara jambang itu.
Saya diam saja dan seperti tadi hanya manggut-manggut. Tak berani berkesimpulan. Tak lama kemudian, seorang perawat memanggil nama saya. Periksa ini-itu, disuruh buka baju, buka mulut, lalu dirontgen, kena Rp120 ribu. Belum lagi nebus obat, mahalnya bukan main. Hhh…kebutuahn hidup di Batam, memang tak mampu ditopang sepenuhnya oleh gaji. Setidaknya, bagi saya.***



Leave a Reply