Buku sampai ke Midai

Barusan adik saya, Linda, di Midai, Natuna, kirim SMS. “Bang, buku Abang laris-manis. Linda ikut nyebarkan buku itu ke kantor-kantor pemerintah di sini. Kini, di kedai kopi orang-orang bicara politik. Pasti buku Abang punya pasal. Selamat ya!”

Saya tersenyum membaca SMS tersebut. Mungkin terlalu berlebihan. Adik perempuan saya itu juga mengatakan bahwa seorang guru SMP saya, Pak Ibrahim Kirau, kirim salam ke saya. Katanya, itu murid saya dulu di SMP. Wah, jadi pembicaraan nih, he..he..he…

Sebelumnya, adik laki-laki saya, Indra, juga kirim SMS. “Bang, buku Abang laris. Banyak yang tak kebagian. Orang-orang pada minta dikirim lagi,” tulisnya. Memang, dulu waktu dia ke Batam, saya minta dia bawa 15 buku “Membranding Batam Menjual Kepri” yang saya tulis itu. Kini, buku tersebut sudah dapat diperoleh di Gramedia DC Mall dan BCS Batam.

Iseng, saya berpikir, wah, kalau nanti mau jadi legislatif tahun 2009, boleh juga tuh saya sebarkan di Midai dan kecamatan sekitarnya di Natuna. Siapa tahu bisa menjaring suara, ha..ha..ha…

Soal Midai, saya memang sempat miris memikirkannya. Bayangkan, tidak ada satupun anggota DPRD Natuna berasal dari daerah pemilihan Midai. Kalaupun ada, hanya di DPRD Provinsi Kepri, yakni Sofyan Samsir dan Fachmi Amri. Mereka yang di DPRD Natuna didominasi dari Bunguran dan Anambas. Sampai-sampai saya khawatir bahwa nanti plot pembangunan tidak akan mengalir sampai ke Midai, tanah kelahiran saya itu.

Yang saya dengar, waktu Pemilu 2004 yang lalu, beberapa caleg dari Midai berebut saling sikut. Padahal, jumlah pemilih di kecamatan seluas lebih kurang 10 KM2 itu tidaklah memenuhi BPP. Jadinya, Midai harus digabung dengan Serasan sebagai satu daerah pemilihan. Jadinya, karena caleg Midai sendiri berebutan dan suara terpecah, maka yang duduk akhirnya dari kecamatan lain.

Saya pernah curhat ke Bupati Natuna Daeng Rusnadi. Saya bilang, “Pak Bupati. Jangan karena tidak ada anggota DPRD dari Midai, lalu pembangunan di sana dilupakan atau sangat kecil”.

Bupati tentu saja membantahnya. “Siapa bilang? Banyak kok pembangunan di Midai. Terutama tahun 2007″.

“Tapi saya lihat pengumuman lelang di koran Posmetro, khususnya lelang Dinas Kimpraswil Natuna, sedikit sekali proyek untuk Midai. Hanya ada satu semenisasi tahun 2007 ini,” kata saya.

“Tidak betul itu. Sejak 2006 sudah banyak proyek fisik di sana. Jangan dilihat di satu dinas saja, masih ada proyek-proyek dinas lain seperti Dinkes, Disdik, Kelautan, dan lainnya,” tangkis Bupati. Hanya saja, karena tahun 2008 terjadi pemangkasan APBD Natuna oleh Pusat, pastilah kue pembangunan makin kecil di Natuna.

Saya coba cek ke beberapa kerabat di Midai dan mereka membenarkan bahwa di sana sudah cukup banyak proyek fisik dibangun Pemkab Natuna. Kalau jalan keliling kecamatan, paling tinggal sekitar 7 KM lagi. Sekolah dan berobat katanya gratis untuk seluruh Natuna. Yah, syukurlah. Tapi Midai harus tetap mendapatkan prioritas. Sebab, kecamatan tersebut memiliki sejarah tersendiri. Termasuk salah satu koperasi tertua di Indonesia, Achmadi & Co, pernah berdiri di sana. Bahkan, ketika mantan Wapres Bung Hatta pernah ke Midai tahun 1950-an, dia mengakui bahwa koperasi di Midai termasuk yang tertua di Indonesia. Hanya saja, karena kuatnya dominasi Pulau Jawa waktu itu, sehingga yang diakui sebagai yang tertua adalah salah satu koperasi di Pulau Jawa.

Kini, Midai terus berbenah. Sebagai putra daerah, tentu saya wajib memantau perkembangannya dari tahun ke tahun. Kalau ada yang menyimpang, tentu saya wajib pula meluruskannya. Ini semua demi tercapainya tujuan pembangunan itu sendiri, yakni menuju masyarakat makmur, adil, dan sejahtera (MAS), sesuai dengan Visi Natuna MAS 2020. Bukan begitu, Pak Bupati?

2 Responses to “Buku sampai ke Midai”

  1. furqan Says:

    masih terpikirkah anak-anak midai dalam kemajuan pulau yang kecil mungil itu?..saya berharap kawan-kawan yang berada diatas minimal mempunyai otoritas, kapasitas suaranya bisa didengar baik menyuarakan suaranya dipemerintah daerah, maupun pusat dan berkata, inilah tempat kelaiharan ku “MIDAI” tolong jangan dipandang sebelah mata, buat saudaraku candra seriuslah, niatkanlah dihatimu untuk memperhatikan daerah kelahiranmu, trims


  2. furqan Says:

    saudaraku “candra Ibrahim, baru-bari ini aku mendengar kabar yang tak sedap, mungkin dari masa aku kanak-kanak sampai dengan sekarang aku dewasa, masih terngiang-ngiang ditelingaku, MASIH ADANYA PENGEBOMAN IKAN” hal yang jelas-jelas melanggar hukum, apakah tidak ada solusinya untuk menghentikan perbuatan itu?


Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>