Bola Panas Ketua Ikamsu
24 Apr 2008 Catatan Lepas
Alih-alih (ini istilah yang menurut saya benar) sebuah ikatan keluarga Muslim dari seberang mengusulkan dua mantan gubernur Riau (Kepri dulu bagian dari Riau) diberikan penghargaan khusus. Alasannya, untuk mengingat jasa kedua tokoh tersebut. Satu bernama M Amin Nasution, satunya lagi Kaharuddin Nasution. Maka, bukan sebuah kebetulan belaka ketika yang mengusulkan itu adalah Ikatan Keluarga Muslim Sumatera Utara (Ikamsu). Begitu diberitakan Batam Pos, Kamis (24/4/08).
Alih-alih itu maknanya tiba-tiba, bukan “alih-alih” dalam versi wartawan di Jakarta dan Pulau Jawa yang memadankan “alih-alih” dengan “jangankan”. Misalnya pada kalimat: alih-alih menyerahkan diri ke polisi, penjahat itu malah menantang korps penegak hukum itu untuk duel satu-lawan satu. Nah, kalau dibuat dalam versi benarnya, maka kalimat di atas bisa bermakna: tiba-tiba menyerahkan diri ke polisi, penjahat itu malah menantang korps penegak hukum itu untuk duel satu lawan satu. Halah! Kan rancu, bos!
Pertanyaan selanjutnya, mengapa Ikamsu alih-alih mengeluarkan usulan seperti itu, ketika aura Pemilu 2009 sudah semakin terasa? Pesanankah? Titipankah? By order-kah? Atau lainnya, misalnya ingin menyanjung, memuji, “main biliar”, tembak kanan yang kena kiri, atau malah bermaksud mengampu? Waduh!
Seingat saya, kalau bicara jasa, semua pemimpin pasti pernah punya jasa terhadap daerah yang pernah dipimpinnya. Bahkan seorang diktator seperti Soeharto pun amat berjasa di negeri ini. Siapa yang berani membantahnya? Nah, dalam persoalan mantan gubernur Riau (dan Kepri), tentu tidak adil jika menyebut dua nama itu sahaja, yang kebetulan bermarga Nasution. Masih ada nama lain: Soebrantas, Soeripto, Saleh Djasit, dan Rusli Zainal (masa transisi). Tidakkah keempat (khususnya tiga yang di depan) mantan gubernur itu pernah menorehkan sejarah baik bagi Kepri yang dulu bagian dari Riau itu?
Di sinilah, agaknya kita perlu merenungkan kembali segala tindak-tanduk, apalagi ucapan. Seorang ketua Ikamsu, sebuah paguyuban keluarga yang terdiri dari etnis, alkhususan sebuah relegi, tidak perlu buru-buru menebarkan wacana yang kelak kemudian akan membuat orang lain, etnis lain, terluka. Seolah, mantan gubernur yang pernah berjasa hanya dari klan tertentu: Nasution. Padahal, Kepri ini dibangun di atas keberagaman suku dan etnis. Dia sangat-sangat welcome dengan etnis manapun, sehingga tak jarang penduduk aslinya pun sering terjejas. Lalu nanti, suatu saat kelak, apakah akan ada wacana untuk memberikan penghargaan bagi mantan anggota DPD yang dianggap berjasa, yang kebetulan dari klan yang sama?***



Leave a Reply