Berawal dari Diskusi Ringan dengan Konsul
27 Feb 2009 Dari Amerika
Menjelajah Amerika, dari DC ke San Francisco (1)
TAK pernah terbayangkan sebelumnya ketika saya dinyatakan lulus untuk mengikuti International Visitor Leadership Program (IVLP) 2008 ke Amerika, awal Januari hingga pertengahan Februari lalu. Padahal, jujur, ketika mengisi formulir yang dikirimkan oleh Konsulat AS di Medan, tahun 2007 yang lalu, saya hanya coba-coba. Itupun setelah (maaf, terkesan sombong) diminta oleh Konsul AS di Medan Sean B Stein, beberapa waktu sebelumnya.
Sejujurnya, tawaran dari Sean bermula setelah kami berbincang sekitar dua jam di ruangan kerja saya dulu, di lantai dua Graha Pena Batam, tahun 2007. Saat itu, saya masih menjabat pemimpin redaksi di perusahaan induk Divre Batam (Grup Jawa Pos/Riau Pos) itu. Memang tidak ada orang lain ketika itu, hanya kami berdua, meskipun kemudian datang seorang wartawan foto Batam Pos yang mengabadikan perbincangan tersebut.
Kami berdiskusi tentang banyak hal; politik, ekonomi, kebudayaan, dan hal-hal sangat ringan lainnya. Namun, konsentrasi kami memang lebih banyak soal ekonomi, apalagi saat itu Batam sedang gencar-gencarnya melobi Jakarta agar ditetapkan sebagai kawasan ekonomi khusus (KEK) alias free trade zone (FTZ). Nah, di ujung diskusi itulah sang konsul menawarkan saya mengikuti program tahunan tersebut. Katanya, nanti akan ada form yang harus saya isi dan dikirim ulang ke Konsulat AS di Medan.
Begitu saja. Pertemuan usai. Beberapa hari kemudian saya menerima email dari staf konsulat dan tanpa beban saya isi beberapa data yang diminta di sana. Selanjutnya, saya hanya menunggu sambil sesekali berharap.
Beberapa bulan kemudian, tahun 2008, Konsul Sean B Stein datang lagi ke Batam. Saat itu, posisi saya sudah tidak pemimpin redaksi lagi. Saya sudah hijrah ke koran lain, namun masih di grup yang sama: Batam News. Di Batam Pos sendiri saya masih menempati posisi Wakil PU Bidang Redaksi dan IT. Sean datang bersama wakil Dubes AS di Indonesia. Kali ini saya mengajak beberapa teman redaksi Batam Pos dan Batam News berdiskusi di ruang rapat redaksi di lantai dua. Sebab, mereka ingin mengenal lebih jauh tentang Kepri. Saat itulah, setelah diskusi, saya menyerahkan sebuah buku kumpulan tulisan saya yang belum lama saya terbitkan: Membranding Batam, Menjual Kepri.
Sampai di situ, belum ada kabar apakah saya lolos ikut IVL atau tidak. Saya pun, jujur, sudah tidak memikirkannya lagi, karena sudah hampir setahun setelah saya mengembalikan formulir ke konsulat. Ah, sepertinya saya gagal, pikir saya. Namun, beberapa bulan kemudian, saya Sean menelpon saya dan mengatakan bahwa saya terpilih sebagai salah satu wakil Indonesia di IVL tahun 2008. Wah, perasaan saya campur-aduk, antara senang dan cemas. Maklum, belum pernah akan pergi sejauh itu ke luar negeri. Paling selama ini baru pernah ke Thailand, Malaysia, atau Singapura. Ini Amerika, di mana banyak orang mengimpikannya.
Sempat Menolak
Soal perasaan cemas itu, saya sempat melakukan tindakan yang sangat bodoh. Dalam suatu kesempatan berbincang dengan Sean, si konsul itu, saya sempat utarakan niat saya untuk mengundurkan diri dari kegiatan tersebut. Saya khawatir meninggalkan pekerjaan dan keluarga selama sebulan. Apakah saya akan diberi izin oleh atasan dan keluarga? Bodohnya, sebelum saya mengutarakannya kepada atasan, saya sudah mengatakan bahwa saya kemungkinan batal berangkat kepada Sean. Sialnya lagi, saya mengatakannya melalui SMS.
Beberapa hari kemudian, saya ditelpon seorang staf Konsulat AS di Medan, yang namanya saya lupa. Dia menyampaikan salam dari Sean, namun salam bernada kecewa. Sean kecewa atas penolakan saya, karena bagaimanapun saya sudah direkom olehnya ke Kedubas di Jakarta, bahkan sampai ke Deplu di Washington DC. Saya benar-benar merasa bersalah. Saya kemudian menghubungi bos saya, Pak Rida K Liamsi di Pekanbaru. Pak Rida langsung merespons sangat positif. Dia menyebutkan bahwa itu kesempatan langka dan tidak semua jurnalis/wartawan mendapatkannya. Saya lega. Saya kemudian diskusi lagi dengan keluarga. Intinya, mereka semua mendukung saya. Thank’s God!
Sejak saat itu, saya sibuk mempersiapkan diri. Pesan Pak Rida yang minta saya kembali melatih bahasa Inggris, saya coba semampu saya. Saya pun rajin surfing ke internet, mencari hal-hal berkaitan dengan Amerika. Dari jadwal yang saya terima beberapa hari kemudian, diperoleh kepastian bahwa keberangkatan akan dimulai dari Batam pada tanggal 22 Januari, berakhir 16 Februari. Rute yang akan ditempuh sangat panjang, Batam-Jakarta-Singapura-Narita (Jepang)-Washington DC.
Dalam pada itu, untuk domestiknya, bakal mendatangi beberapa kota di banyak negara bagian, di antaranya Washington DC. Kelak akan saya tuliskan perbedaan antara Washington DC dengan Washington (state) dan New York City dengan New York (state). Beberapa kota lain yang akan dikunjungi adalah Syracuse (di New York), Columbia, St Louis (Missouri), Denver (Colorado), Austin (Texas), dan San Francisco (California). (bersambung)



February 28th, 2009 at 9:41 am
Wag.. abang Riau Pos Hroup juga ya, sudah lama saya tidak kesini..
August 10th, 2011 at 4:52 pm
Great One…
I must say, its worth it! My link, http://allison11.onsugar.com/,thanks haha…