Hinterland Singapura-Johor

Ini adalah kali kedua saya ke Afamosa Resort Malaysia dan kali kedua pula saya ditemani oleh Alice Lim. Tapi ke Johor, sudah dua kali dalam dua pekan belakangan, he..he… Sebenarnya, bukan saya saja yang ditemani oleh Senior Sales Manajer Afamosa itu, tapi rekan-rekan jurnalis lainnya dari Batam. Selain jurnalis, bersama kami ikut pula rombongan dari Batamindo Investment Cakrawala yang dikomandoi Senior Manager Liason Andi Mapisangka.

Tak banyak yang berubah dengan resort yang terletak di Ayer Keroh, Melaka, itu. Setelah menempuh perjalanan 3,5 jam dari Johor, saya sampai di resort yang menyuguhkan berbagai objek dan permainan wisata itu. Seperti dua tahun lalu, kali ini saya dan teman-teman juga disuguhi permainan perang-perangan ala koboi, atraksi suku Indian, karnaval, film 4 dimensi, dan cowboy town. Sebelumnya, di antara saya dan rekan jurnalis yang lain diberi kesempatan main paintball, berkuda, dan gokart.

Satu yang pasti bahwa resort tersebut sudah menjadi tujuan wajib bagi pelancong dari Arab, selain Singapura, Korea, Jepang, dan Malaysia sendiri. Saking banyaknya warga Arab yang berkunjung ke sini, pihak pengelola menganggap perlu beriklan dalam bahasa Arab. Sepertinya, bahasa Arab merupakan bahasa keempat di sini, setelah Melayu, Inggris, dan Mandarin. Itu nampak dari brosur-brosur yang dipasang di berbagai tempat, termasuk di banana truck atau shulter. Mobil ini khusus membawa pelancong ke manapun mereka hendak pergi di kawasan wisata ini.

Kesan yang dapat saya tangkap adalah bahwa Malaysia memang serius dalam mengembangkan objek wisata di negara mereka. Di setiap negara bagian, diberi julukan tersendiri. Malaka, misalnya, dijuluki Bandar Bersejarah, Johor dengan The Southern Gateway. Selain itu, di berbagai kawasan bisnis yang tumbuh hampir di seluruh kawasan Malaysia, diberi nama sendiri-sendiri, seperti kawasan Danga Bay di Johor yang diberi nama Vision City of The South dan Nusajaya di Iskandar Malaysia dengan One World in The City. Di seluruh kawasan bisnis ini semuanya dilengkapi dengan kawasan wisata terpadu.

Begitulah Malaysia. Bahkan, khusus Johor Bahru, dengan pilot projectnya Iskandar Development Region, bakal disulap menjadi pusat pertumbuhan bisnis paling pesat di Malaysia. Ini tidak saja menjadi ancaman bagi Batam, juga Singapura. Sebab, jika jika dilihat di peta, Johor Bahru ibarat sebuah mulut yang siap “melahap” negara kecil bernama Singapura.

Di Malaysia, terdapat beberapa kawasan yang dipersiapkan untuk pusat pertumbuhan bisnis maupun industri. Tidak semuanya merupakan kawasan special economic zone, namun fasilitas dan insentif yang dipersiapkan oleh pemerintah Malaysia hampir sama dengan kawasan special economic zone itu sendiri. Sebab, secara “resmi”, pemerintah Malaysia hanya menyiapkan empat kawasan special economic zone, seperti The Zone di Stulang Laut, Senai Air Port, Tanjung Pelepas, dan Pasir Gudang. Sedangkan kawasan Iskandar memiliki fasilitas hampir mirip dengan special economic zone. Jika sebuah perusahaan yang menempati kawasan industri di Iskandar minta fasilitas free trade zone, cukup mohon izin ke kerajaan (pemerintah), maka pemerintah akan menyediakan petugas kastam (bea cukai) dan imigrasi di sana.

Dengan demikian, sesungguhnya, Indonesia yang memiliki Batam sebagai sebuah kawasan amat strategis, kini semakin terancam dengan eksistensi Singapura maupun Malaysia. Jika Indonesia tidak serius mengembangkan Batam, Bintan, Karimun sebagai kawasan special economic zone, alamat akan tetap tertinggal. Bahkan, Batam hanya akan menjadi hinterland bagi Singapura dan Malaysia saja. Padahal, dari sisi infrastruktur, Batam lebih siap dibanding Johor. Pasalnya, Johor sedang membangun infrastruktur di kawasan baru, sedangkan Batam dari dulu sudah punya itu semua.

Khusus wisata, menjelang Visit Batam 2010, teramat banyak yang harus dibenahi oleh Pemko Batam, termasuk mengubah mindset warganya agar sadar wisata. Keinginan untuk sekadar menikmati limpahan turis yang berkunjung ke Singapura, harus diubah. Kepada Dinas Pariwisata tak boleh berpangku tangan. Jangan puas sebagai daerah limpahan semata, tapi Batam harus menjadi destinasi sendiri. Sebab, tak ada daerah lain yang memiliki kedekatan jarak dengan Singapura maupun Malaysia, selain Batam. Bahkan, jika salah satu kawasan di pesisir Johor kelak dikembangkan menjadi pelabuhan, bukan tidak mungkin jarak tempuh Batam-Johor akan sama dengan Batam Singapura; setengah jam saja.***

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>