Bekerja di Malam Idul Adha
19 Dec 2007 Catatan Biasa
Sedih juga ketika malam takbiran harus tetap masuk kerja. Bayangkan, ketika sebagian besar umat Muslim tengah mempersiapkan diri berhari raya Idul Adha besoknya, saya dan teman-teman di Batam Pos harus menggodok berbagai berita agar koran ini tetap terbit dan sampai ke tangan pembaca. Entah berapa jumlah pembaca kami ketika lebaran, he..he..he…
Tapi, begitulah risiko bekerja di media massa. Batam Pos yang sudah berkomitmen menjadi koran non-stop, meskipun hari besar keagamaan harus tetap terbit, kecuali saat Idul Fitri. Apalagi ini menyangkut komiten yang sudah dibangun dengan berbagai relasi, seperti pemasang iklan, pelanggan, dan sebagainya. Jadinya, walaupun istri dan anak-anak agak protes, saya tetap memimpin kawan-kawan redaksi bekerja seperti biasanya.Untuk menghibur keluarga, pagi tadi saya antar mereka ke Telagapunggur agar bisa lebaran di tempat neneknya, Penyengat, Tanjungpinang.
Hmmm…. Begitulah. Bukannya mau mengeluh. Sesungguhnya, sejak bekerja di koran tahun 1993 yang lalu, terkadang muncul juga rasa jenuh. Selama 14 tahun bekerja, lebih dari separuhnya saya bekerja pada shift malam. Maklum, bekerja sebagai pengasuh koran memang kebanyakan dilakoni malam hari hingga dinihari. Sebab, dead line koran biasanya memang pada waktu tersebut.
Suatu saat, saya membayangkan akan beristirahat mengasuh penerbitan. Maksudnya, saya tetap bekerja di sini, karena inilah keahlian saya satu-satunya, namun tak lagi masuk tiap malam. Kan enak, jadi pemred yang tugasnya hanya ngontrol dari rumah, dan besoknya bicara di rapat, mengevaluasi dan membuat proyeksi. Teman-teman saya yang juga pemred di koran lain, banyak yang begitu.
Tapi, itu belum bisa saya lakukan, karena saya termasuk orang yang penakut. Sebab, sebagai pemred, sesungguhnya satu kaki saya di alam bebas, satunya lagi di pintu penjara. Pasalnya, berita yang diterbitkn bisa saja suatu saat akan menimbulkan delik pers yang akan menyebabkan saya berurusan dengan hukum. Apalagi tidak semua penegak hukum di negeri ini memahami dan mau menggunakan UU Pers Nomor 40/1999 untuk menyelesaikan sengketa akibat pemberitaan. Masih banyak yang menggunakan KUHP peninggalan Belanda si penjajah itu.
Itulah sebabnya, saya belum bisa mempercayakan sepenuhnya koran yang saya pimpin kepada rekan-rekan di Batam Pos. Mekipun saya didampingi seorang wakil, namun kami semua adalah manusia yang tak sempurna. Dia juga bisa khilaf. Apalagi wakil saya itu, Ramon Damora, masih mudia usia. Kadangkala terlalu berani dan bersemangat. Jadinya, ya, setiap malam (kecuali Sabtu malam saya off ), saya pasti ada di kantor menemani rekan-rekan di redaksi. Kalau pimpinan di divisi lain kan tidak begitu. Cukup ngantor siang hari kayak pegawai kantoran, ha…ha…
Sepertinya saya harus segera mengakhiri catatan biasa ini. Sebab, kalau diteruskan, bisa ada yang tersingggung nanti. Padahal, sayalah yang mestinya lebih banyak tersinggung, sebab, sudahlah masuk tiap hari siang-malam, selalu saja ada yang komplain dengan pekerjaan saya dan teman-teman. Komplain dari luar maupun dari dalam, ha..ha..ha… Sudah ah. Makin jauh nanti. Selamat Idul Adha 1428 H, maaf lahir batin.***



December 19th, 2007 at 7:14 pm
Many people talk about the need to reform Islam. Now you can stop talking and start helping.
With the help of our readers we went through the Koran and removed every verse that we believe did not come from Allah, the Most Merciful, the Most Compassionate. However, it is possible that we missed something, and we could use your help. If you find verses in the reformed version of the Koran that promote violence, divisiveness, religious or gender superiority, bigotry, or discrimination, please let us know the number of the verse and the reason why it should be removed. Please email your suggestions to koran-AT-reformislam.org.
When we finish editing process, we would like to publish Reform Koran in as many languages as possible. If you could help with translation or distribution of the Reform Koran, please email us at koran-AT-reformislam.org. If you could provide financial support, please visit our support page.
In Memoriam of Aqsa Parvez
http://www.reformislam.org/reform.php