Bawa Abon Ayam, Terhindar “Secondary Inspection”
11 Mar 2009 Dari Amerika
Menjelajah Amerika, dari DC ke San Francisco (5)
SETELAH turun dari bus khusus yang membawa penumpang dari ruang kedatangan ke gedung utama, saya dan kawan-kawan serta penumpang lain mulai antre di depan petugas imigrasi yang akan mencop paspor. Seperti negara lain, di sini ada juga line khusus bagi pemegang paspor Amerika (citizen) dan ada line lainnya bagi foreigners. Karena ingin cepat sampai ke tempat pengambilan bagasi, saya dan teman-teman jurnalis lainnya berpisah di beberapa meja petugas imigrasi.
Saya dag-dig-dug juga ketika antre. Pasalnya, bisa saja saya jadi salah satu korban secondary inspection, yakni dibawa ke ruangan khusus untuk diinterogasi lebih lanjut. Apalagi nama belakang saya agak berbau Arab atau Islam, Ibrahim. Maklum, kebijakan pemerintahan Presiden Bush dulu, membenarkan bagi negara untuk menginterogasi siapa saja yang berbau Islam atau Arab. Apalagi sejak peristiwa ditabraknya gedung World Trade Center (WTC) di New York City yang kemdian dikenal dengan Peristiwa 9-11 (11 September) oleh sebuah pesawat itu.
Saya lihat seorang teman jurnalis, Linova, sudah lolos dan paspornya sudah dicop petugas. Tiba giliran saya, dengan memasang wajah “sebiasa” mungkin, ditambah sedikit senyum, berdiri dengan pedenya di depan petugas. Saya ditanyai beberapa pertanyaan, seperti berapa lama di Amerika, mau ngapain, serta ke mana saja. Dengan bahasa Inggris seadanya, saya menjawab semua pertanyaan, tentu saja sambil tetap pasang muka selambe (bahasa Melayu, bermakna santai). Alhamdulillah, semuanya lancar-lancar saja.
Saya kemudian bergegas menuju tempat pengambilan bagasi di sebelah ruangan kaca transparan. Maklum, sejak dari Jakarta, koper saya memang tidak dikunci, karena memang begitulah aturannya. Oh ya, ketika masih di dalam pesawat tadi, kami diberi kartu imigrasi yang harus diisi. Atas saran seorang teman, beberapa isian saya abaikan, seperti apakah saya membawa makanan, hewan, dan cairan, semuanya saya jawab “no”. Sebab, kalau dijawab “yes”, bakal ada pemeriksaan lanjutan. Padahal, di dalam koper, saya membawa beberapa gelas mi instan, abon sapi dan abon ayam, serta deterjen sekadar persiapan. Berbohong sedikit, tidak apalah.
Soal koper yang tidak boleh dikunci selama penerbangan internasional, termasuk penerbangan domestik saya kelak selama di Amerika, sebenarnya ada pengecualian. Koper bisa saja dikunci asal dengan kunci khusus berlogo TSA (transportation security agency), sebab petugas bandara memiliki master kuncinya.
Nah, setelah saya dan Linova mengambil koper, barulah kami sadar bahwa tidak ada Uki dan Yos (dua jurnalis lainnya) di sekitar kami. Beberapa menit kami menunggu di tempat pengambilan bagasi, tetap mereka tak muncul. Saya mulai syak bahwa keduanya terkena secondary inspection yang konon diambil secara acak dari penumpang laki-laki. Saya mulai gelisah, karena bisa saja prosesnya akan berjam-jam, seperti yang pernah diceritakan petugas di Embassy AS, Jakarta, tempo hari. Namun, tak kemudian Yos muncul, disusul Uki. Syukurlah. Yos mengaku bahwa tadi kartu isian imigrasinya tertinggal di pesawat, sehingga harus mengisi ulang.
Kami kemudian bersama-sama ke pemeriksaan petugas di lapis kedua. Di sinilah masalah itu mulai tercium. Saya dan Linova lancar saja melewati petugas. Namun, saya lihat di kertas imigrasi yang diisi Yos dan Uki ada kode tertentu. Di sinilah keduanya terhambat untuk keluar dari bandara. Tapi saya terbayang bahwa di luar pastilah interpreter kami sudah menunggu sambil mengacung-acungkan kertas bertuliskan “wartawan Indonesia”. Lebih baik saya dan Linova menemuinya daripada kelak dikira kami belum mendarat, kemudian ditinggal pergi oleh interpreter tersebut. Kalau itu terjadi, bisa gawat, karena ini adalah kedatangan pertama ke Amerika.
Benar saja, di luar sudah menunggu seorang laki-laki tua, yang kemudian saya ketahui bernama Josi Katoppo, pria asal Manado, pemegang green card Amerika. Pemegang green card memiliki hak dan kewajiban sama seperti warga negara AS, namun tidak berhak memilih dan dipilih dalam pemilu setempat. Status kewarganegaraan tetap Indonesia.
Di sinilah kami menunggu berjam-jam karena Yos dan Uki memang terkena secondary inspection. Prosedur ini kelak mengharuskan siapa saja yang terkena, harus melapor ulang ketika meninggalkan Amerika. Kalau tidak, ketika suatu saat kembali ke Amerika, akan terkena proses yang lebih rumit dan bisa saja dikembalikan ke negara asal.
Selain itu, bisa saja dianggap tidak pernah meninggalkan AS tepat waktu, sesuai izin visa selama 30 hari, karena datanya tidak di-entry oleh petugas.
Setelah semuanya beres dan kedua “tersangka” itu bergabung, barulah kami bergegas ke luar bandara. Seorang driver asal Palestina, Abid, menunjukkan tempat van diparkir. Cuaca dingin mulai menusuk. Suhu di luar bandara diperkirakan di atas 10 derjat celcius. Angin yang berhembus membuat dingin semakin menggigit. Saya sejak tadi sudah mengenakan jaket plus sarung tangan. Demikian pula yang lainnya, lengkap dengan topi di kepala.
Sepanjang perjalanan dari bandara ke hotel tempat menginap, Homewood Suites, di tengah kota Washington DC, bagai orang desa masuk kota, saya mulai mengagumi berbagai bangunan di kota itu. Sungai Thompson yang membelah kota Washington, terlihat mulai membeku. Permukaannya mulai ditutupi es. Dari kejauhan, terlihat puncak National Plaza (monumen nasional) berdiri kokoh menjulang. Konon, monumen inilah yang menjadi inspirasi Presiden Soekarno ketika hendak membangun Monas di Jakarta dulu. (bersambung)
Foto: van yang disediakan untuk kami selama di DC. Supirnya, Abid, orang Palestina.



Leave a Reply