Ancaman Visit Batam 2010
22 Apr 2009 Otak-otak
SEJAK Februari 2008, Pemko Batam sudah mencanangkan Visit Batam Year 2010. Tak main-main, logo dan tahunnya sudah di-launch di stadion terbesar di Batam, Stadion Temenggung Abdul Jamal, bertepatan dengan helat salah satu panggung musik akbar di Indonesia. Namun, tahukah Anda, sesungguhnya banyak potensi ancaman bagi tahun kunjungan Batam itu?
Tanpa bermaksud membuat urutan-urutannya –berdasarkan tingkat keseriusannya–, mari kita lihat ancaman tersebut satu persatu. Pertama, objek wisata. Tentu saja, ini masalah vital, sebab ini menyangkut objek tujuan. Apa yang akan kita suguhkan kepada wisatawan, jika objeknya saja kita tidak punya? Punyakah kita objek wisata tersebut? Bisa iya, bisa tidak. Iya kalau kita sadar untuk mengoptimalkan serta membenahinya. Tidak, jika kita pura-pura berlagak pilon dan tidak mau tahu.
Sebut saja misalnya Jembatan Fisabilillah (dikenal pula dengan Jembatan Barelang), sampai hari ini masih sebatas ikon kota yang “hidup segan mati tak mau”. Belum terlihat penataan di tempat tersebut. Kalau siang, paling ada penjual jagung berjejer, tanpa nilai estetika di dalamnya. Malam, berubah jadi tempat kencan, dan sering pula jadi tempat bunuh diri.
Harus diakui bahwa penataannya tidak menarik. Contoh kecil, kalau pengunjung mau buang air, ya, tahan saja. Konon, Otorita Batam (disebut demikian karena masih memperoleh suplai dana dari APBN), bermaksud membenahi objek tersebut, termasuk eks camp pengungsi Vietnam di Pulau Galang. Tapi itu baru katanya. Lama juga nunggu proses tendernya.
Objek wisata lainnya, tentu sudah didata oleh Dinas Pariwisata Batam. Biar merekalah kelak mencatatnya di dalam Buku Visit Batam 2010. Tak usahlah diajari. Atau, mereka memang tak berminat membuat buku panduannya, termasuk senarai even sepanjang tahun? Sebagai catatan, sesungguhnya banyak objek wisata menarik di sini, misalnya wisata bahari, wisata kuliner, wisata sport, dan wisata belanja.
Ancaman selanjutnya yang tak kalah pelik, yakni mindset. Di Pemko Batam sendiri, belum ada persamaan persepsi tentang perlunya menjadikan Batam sebagai daerah tujuan wisata. Masih saja ada pemikiran “tanpa tahun kunjungan wisata saja, orang sudah banyak datang ke Batam, kok“. Sehingga, mereka menganggap ini bagian dari seremonial semata. Parahnya lagi, masih ada sebagian kalangan internal Pemko menganggap Visit Batam 2010 hanyalah “proyek wali kota” saja. Di pucuk pimpinanpun, masih sebatas will saja, belum dibarengi action memadai.
Sekadar contoh masih lemahnya mindset pejabat Pemko Batam; masih banyak di antara mereka yang terjebak pada dua kutub “air dan minyak”. Keduanya tidak mungkin bisa dipersatukan. Misalnya, di satu sisi Pemko ingin menjadikan Batam sebagai daerah tujuan wisata –yang biasanya sangat identik dengan hal-hal berbau sedikit mini, baik dalam ukuran pakaian para pelancong maupun dalam ukuran moral– namun di sisi lain pejabatnya gencar mengobral “moralitas”.
Di beberapa pertemuan dengan masyarakat, tokoh, dan pelajar, “pesan moral” selalu dikumandangkan, misalnya dengan tiada hentinya mengajak masyarakat menjaga moral, berpakain sopan, tertutup, padahal di sisi lain, kita berazam mendatangkan turis sebanyak-banyaknya. Pertanyaan sederhanya: apakah mungkin kita bisa mengatur pakaian para turis agar sesuai dengan “jargon” moralitas tersebut? Pariwisata dengan hal-hal berbau mini itu, jika dibandingkan dengan moralitas, bagaikan dua sisi berbeda, bagai air dan minyak. Namun, demi popularitas, hal itu sering mereka lakukan.
Demikian pula halnya dengan mindset masyarakat. Selalu saja kalangan ini dituding belum siap menerima kedatangan turis. Benarkah? Tidak juga. Sebab, soal mindset, bukan hanya domainnya masyarakat, tapi juga pemerintah. Di masyarakat, sebagai orang yang akan bersentuhan langsung dengan kedatangan para turis, memang perlu diubah mindsetnya: bahwa industri pariwisata merupakan satu-satunya yang mampu bertahan di tengah krisis. Industri pariwisata bisa menghidupi rumah tangga. Multiplier effect-nya bisa diraskaan oleh masyarakat di sekitar objek wisata serta tempat-tempat di mana biasa dilewati oleh rombongan turis.
Dalam hal ini, Bali sudah memberikan contoh yang begitu nyata. Masyarakat di sana benar-benar sudah menjadi “masyarakat wisata”. Jangan ada lagi masyarakat yang beranggapan bahwa pariwisata hanya akan merusak moral. Itu sangat tergantung dengan kesiapan kita menerima segala macam karakter turis dengan latar belakang yang berbeda pula. Kasarnya, jika tak mau melihat turis bermini-ria, ya, jangan ditengok. Sebab, adalah mustahil mengatur pakaian para turis, kecuali di tempat-tempat ibadah. Namun, ada sekelompok masyarakat di Batam membuat spanduk bertuliskan “Kawasan Berpakaian Sopan”. Spanduk ini dibentangkan di sebuah kawasan yang selama ini ramai dilalui wisatawan.
Ancaman selanjutnya menyangkut inkonsistensi pemerintah, yang dapat ditemui di beberapa peraturan daerah yang berpotensi menghambat terwujudnya tahun kunjungan wiasata tersebut. Sebut saja Perda Kependudukan dan Perda Ketertiban Sosial. Yang pertama, bagaimana mungkin kita mendatangkan turis sebanyak-banyaknya jika di sisi lain kita masih menerapkan pengawasan ketat terhadap semua pendatang di setiap pintu masuk? Siapa yang bisa tahu bahwa turis tidak akan masuk melalui pelabuhan umum, misalnya di Batuampar dan Sekupang? Bukankah mereka yang datang dari daerah lain di Indonesia bisa saja berniat melancong?
Dari sekian banyak ancaman, yang berikut ini tidak bisa diremehkan, yakni publikasi dan promosi. Omong kosong, jika ingin mendatangkan banyak wisatawan tanpa dibarengi dengan publikasi dan promosi. Singapura dan Malaysia adalah contoh paling dekat bagaimana mereka memanfaatkan semua jenis media promosi tersebut. Dari beberapa kali memenuhi undangan, baik dari Singapore Tourism Board (STB) maupun Malaysia Torism Board (MTB), saya merasakan betapa kedua negara tersebut sangat cerdik memanfaatkan media untuk berpromosi. Meskipun, kadang, hal-hal yang mereka gembar-gemborkan dalam promosinya, jauh dengan kenyataan di lapangan. Itu tentu soal lain. Namanya juga dagang, dan dalam dagang perlu modal (dana)!
Yang terakhir, sebagai penutup tulisan ini, ancaman yang tak kalah serius adalah sarana dan prasarana, infrastruktur, transportasi, serta kenyamanan. Dalam hal ini, saya ingin mengambil contoh soal listrik. Bagaimana mungkin kita bisa memberikan kenyamanan kepada para turis, kalau salah satu objek yang akan mereka kunjungi, seperti hotel, mall, dan restoran, masih mengalami ancaman pemadaman listrik? Apa enaknya sih nginap di hotel yang hawanya panas?
Selanjutnya, bagaimana mungkin turis bisa nyaman kalau mall di Batam harus mengatur temperatur sedemikian rupa, bahkan cenderung berhawa panas, akibat genset yang mereka miliki tak mampu memenuhi kebutuhan listriknya? Gonjang-ganjing pemutusan arus listrik, benar-benar sudah menjadi sebuah masalah serius hari ini di Batam. Jika masalah ini tidak ditangani segera –tentu tanpa politisasi–, jangan mimpi Batam akan benar-benar menjadi kota MICE (meeting, insentive, conference, dan ekshibition), sebagai salah satu pintu masuk menuju Visit Batam 2010.***
Catatan: tulisan ini sudah dimuat di Batam News (22/4).



Leave a Reply