Anak Mulai Keranjingan Bola


Ada yang menarik dengan anak pertama saya, Abin, (6 th), sejak beberapa bulan belakangan. Jangan tanya nama para pemain Liga Indonesia, dia pasti tahu. Kapan pertandingan disiarkan live di ANTV, dia juga tahu. Hanya saja, kalau ditanyakan di mana saja home base tim-tim tersebut, baru dia akan berpikir keras mengingat-ingat.

Entah mengapa dia jadi suka nonton pertandingan Liga Indonesia maupun Copa. Yang jelas, sejak stik PS-nya rusak dan TV di kamarnya ngadat, dia sepertinya mencari “pelarian” ke acara sepakbola. Memang, di kaset PS-nya ada beberapa permainan sepakbola, sehingga dia jadi keranjingan dengan sepakbola. Mungkin karena kesepian akibat stik PS dan TV-nya rusak, dia mencari sepakbola lain, dan ditemukannya di ANTV.

Setiap hari, pulang sekolah, pasti nonton, kecuali kalau tidak ada pertandingan. Kadang, karena capek pulang sekolah, dia nonton sambil tiduran, bahkan tak jarang terbangun lagi ketika pertandingan usai. Kalau sudah bangun, dia mencak-mencak, “Mengapa ayah tak bangunkan Abin? Kan habis tuh pertandingannya”.

Saya hanya tersenyum dan berkata, “Lho, ayah tidak tahu Abin ketiduran. Ayah juga baru pulang kantor nih. Bunda kali yang gak bangunkan Abin,” kata saya. Maklum, sepulang menjemput Abin dari sekolah, bundanya pun terlelap tidur karena kecapekan sehabis senam di gym. Biasanya baru bangun menjelang saya pulang dari kantor.

Melihat anak pertama saya yang mulai gila bola, saya teringat masa-masa awal menjadi wartawan, tahun 1993 hingga 1995 yang lalu. Saat itu saya memulai karir sebagai wartawan olahraga. PSPS Pekanbaru yang belum apa-apa, selalu saya ikuti perkembangan mereka. Ini meneruskan kebiasaan senior saya di Riau Pos, Ade Adran Syahlan. Dia memang lebih duluan setahun bergabung dengan Riau Pos di Pekanbaru. Juga sebagai wartawan olahraga. Sekarang kami sama-sama pimpinan umum di media. Bedanya, dia PU koran kriminal Posmetro Batam, saya PU di koran umum, Batam News, yakni koran berbahasa Indonesia yang diterbitkan PT. Sijori Interbintana. Perusahaan ini juga menerbitkan Batam Pos.

Soal anak sulung saya, saya cuma berharap, jangan sampai dia mengikuti jejak ayahnya menjadi wartawan. Sebab, kalau dia jadi wartawan, trus pindah-pindah tugas seperti saya, kan repot juga. Saya misalnya, setelah sebelas tahun jadi wartawan di Pekanbaru, baru mampu bangun rumah tahun 2004. Eh, belum sempat merasakan tinggal di rumah sendiri di Pekanbaru, sudah dipindah pula ke Batam, ha..ha… Untung di Batam disediakan rumah dan mobil milik perusahaan.

Bicara soal Liga Indonesia, memang sekarang kondisinya lebih menarik. Mulai enak ditonton. Tidak seperti dulu-dulu saat emosi penonton sangat mudah tersulut, pemainnya tempramental dan bisa meninju wasit. Korp baju hitampun mulai belajar dari banyak kesalahan. Kalau ada satu-dua insiden di lapangan, itu masih tergolong biasa untuk Indonesia yang penduduknya 220 juta. Tidak perlu terlalu dibesar-besarkan. Yang penting, ke depan, sepakbola Indonesia benar-benar harus menjadi tontonan mengasyikkan dan menghibur melintasi gender dan usia. Itu saja dulu. Soal prestasi, nantilah.***

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>