Aku, Bunda, dan Anak-anakku, Suatu Ketika….
9 Jan 2009 Ruang Keluarga
BUN, aku sering bilang padamu, tak mudah membesarkan anak-anak. Tak cukup hanya dengan memberi mereka makan, pakaian bagus, mainan mahal, atau jajan sore setiap hari. Tidak. Kita harus berpikir keras, bagaimana kelak mereka, anak-anak kita itu, mampu menatap hari, menenggelamkan rasa gundah kita, lalu melanglangbuana entah ke mana, untuk kembali menukik ke mana bangau berasal.
Bukankah pernah pula kukatakan bahwa mereka itu bukanlah sebenar-benar milik kita, namun titipan Sang Maha Pencipta, yang manakala mereka mulai kita buahi dulu melalui ikatan sepasang mani kita? Tidakkah kau ingat itu, Bunda? Lalu, ketika satu putiknya mulai berbuah dan menghasilkan secebis kebanggaan, sudahkah rasa perih itu terobati? Tidak kan?
Masih panjang liku yang harus kita lewati bersama mereka, anak-anak kita itu, buah hati penjaga arsh perkawinan kita itu, Bun. Mereka masih memerlukan kita, dan kita pun masih teramat sangat mendambakan kecup mesra dari mereka. Kau ingat bukan, bagaimana si kecil, setiap hari, selalu saja bergelayut mencari pipi kita, kening, lalu dagu kita, untuk kemudian disapunya dengan bibir basah miliknya itu? Oh… sungguh nikmat dikecup Oval bukan?
Dulu, beberapa tahun yang lalu, sebagai wujud kasih sayangku pada Abin, anak pertama kita, aku termakan rayuan si penjaja asuransi itu. Dia kuasuransikan sejak ubun-ubunnya masih merah, agar kelak, pendidikannya tidak terbengkalai. Tapi, tahukah kau, Bun, betapa sesungguhnya nilai asuransinya tak sebanding dengan biaya sekolahnya saat ini? Batam ini mahal semua, bukan? Sehingga, untuk mengganti seragam sekolahnya saja setiap hari, aku masih berutang janji padanya. Pakailah yang sudah kita beli ini dulu, nak, nanti kalau sudah lusuh, kita beli yang baru. Begitu kan kataku padanya dulu?
Untuk si kecil pun, sudah kupersiapkan sebidang tanah untuknya, kelak, ketika dia memerlukannya. Tidak besar, memang, tapi kuharap, nilainya kelak akan mampu memenuhi keperluan hidupnya ketika menginjak usia sekolah. Juga, sebuah rumah di Pekanbaru, sengaja kupersiapkan untuknya, sebagai ganti, karena si kecil tidak kuasuransikan. Demikian pula sebuah rumah kecil kita di Batam, kuharapkan bisa menjadi bekal kalian anak-beranak, ketika maut memisahkan kita. Siapa tahu aku yang lebih dahulu berlayar ke alam maha luas itu, bukan?
Kini, putik itu mulai memberikan harapan kepada kita. Abin sudah dua kali menempati juara empat, di sekolah yang mahalnya minta ampun itu, tapi kita yakin dengan kualitasnya. Bukankah itu sebuah harapan baru di kehidupan kita, Bun? Di tengah kehidupan yang serba tak menentu ini?
Hidup dan bekerja di Batam ini, seperti pernah kukatakan padamu, sungguh tak pernah kupikirkan sebelumnya. Suasananya teramat beda dengan di Pekanbaru. Kau tahu, kan, sejak aku mulai bekerja di Pekanbaru tahun 1993 dulu, kita merasakan kedamaian dan ketenangan di sana? Setiap hari kita masih sempat bercengkerama dengan teman-teman, saudara, dan para tetangga? Setiap petang kita masih sempat membersihkan halaman depan, samping, dan depan rumah kita, meski dengan sepotong pisau dapur? Kau masih ingat kan dengan jamur yang kerap tumbuh di sanding letter L dinding rumah kita? Mengasyikkan bukan?
Tapi di sini, di Batam ini? Huh…! Beda sekali, Bun. Penuh persaingan dan individualis. Di tempat kerja, bersaing, saling sikut, mengumpat, menjilat, ah, sudah biasa, Bun. Di tempat tinggal kita pun, parkir mobil minta ampun susahnya. Ingat ‘kan ketika dulu, waktu pertama pindah ke tempat kita sekarang, setelah “terusir” dari rumah dinas, kita sempat tegang dengan salah satu tetangga? Hanya karena rebutan tempat parkir. Padahal, dia punya garasi ‘kan, Bun? Kita juga punya. Cuma bedanya, mobil kita dua, dia satu. Gak mungkin ‘kan kita parkir dua sekaligus di garasi kita yang sangat minimalis itu?
Oh ya, Bun, soal kita punya dua mobil itu, sempat jadi bahan tulisan loh di koran. Kata tulisan itu, kita mulai kesulitan mengatur gaya hidup karena memiliki dua mobil, sementara kupon BBM yang kudapatkan dari kantor sudah diciutkan jumlahnya. Alasannya, harus berhemat. (Hm… berapa sih penghematan sekian juta dari omset miliaran itu?). Soal mobil, lucu saja, masalah pribadi kok ditulis di koran? Ha…ha… Lagian, itu ‘kan mobil kantor, masa gak boleh nambah dengan satu mobil pribadi? Tapi, ah, mungkin saja aku yang geer, Bun, sebab bisa jadi yang dimaksud di koran itu orang lain, bukan kita, Bun. Amin…
Well, Bun, tahun ini, nampaknya kita memang masih harus bersabar untuk kembali ke Pekanbaru. Meskipun kau dan anak-anak kita teramat ingin bermain-main di laman rumah kita di kota minyak itu, tapi apa dayaku, yang hanya orang gajian ini. Toh, aku, kau, serta anak-anak kita, menyongsong fajar awal di sini, di Kepri ini, bukan? Jadi, bersyukur sajalah (lagi), karena kita masih bisa mengecek saldo rekening setiap tanggal 28, Bun. Kita masih mampu melanjutkan pendidikan Abin di sekolah yang mahal itu, juga mempersiapkan Oval di sebuah play group, yang, jangan mahal-mahal lagi, ya, Bun? ***



January 11th, 2009 at 4:26 pm
Selamat hari ibu (semoga belum terlambat)
January 11th, 2009 at 4:57 pm
sebagai orang tua kita memang wajib memberikan yang terbaik kepada anak-anak kita.semoga bang Candra dan ibu,mendapat berkat berkelimpahan,saya juga sebagai orang tua dari 2orang putra dan putri,yg satu mau kuliah,dan yang satu SD.Memikirkan masa depan mereka.kiranya harapan sebagai orang tua,kepada anak-anak di berkati Tuhan.salam sukses dari depok ya bang,dan ibu juga.
January 12th, 2009 at 9:36 am
to: unidentify guest love di depok
terimakasih atas semua atensinya ya bu… god bless you too
January 27th, 2009 at 4:04 pm
This is a life.