2008, Tahun Seksi Dahlan-Ria

Malam tadi, saya nonton Batam Televisi (BTv) yang menyiarkan dialog Dua Tahun Dahlan-Ria menerajui Kota Batam. Sayangnya, Dahlan hanya tampil sendiri. “Pak Ria sedang di Balikpapan untuk memfinalkan persoalan data kependudukan,” kata Dahlan, di awal dialog yang dipandu Reynold Wahagheghe dari BTv itu.

Read the rest of this entry »

Teroris Ancam Singapura (dan Kepri)

Berita di koran-koran nasional dan Kepri hari ini membuat bulu kuduk saya berdiri. Bayangkan, seorang tahanan teroris dan pemalsu dokumen dikabarkan melarikan diri penjara Singapura. Slamat namanya, warga negara Singapura, dikenal pula dengan nama Kastari atau Edy Hariyanto, diduga menuju ke Indonesia melalui Batam atau Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).

Ah, apa ini bukan akal-akalan Singapura? Sebab, dengan begitu, berbagai isyu bisa dialihkan, sehingga keamanan dalam negerinya bisa lebih dipelihara dengan menyebutkan si teroris tidak lagi berada di dalam negerinya. Kini, disebutkan sudah mengancam Indonesia melalui Batam atau Tanjungpinang.

Berdasarkan pengakuan seorang bekas pembela Kastari, bisa saja pria yang dulunya pernah tertangkap di Tanjungpinang itu sudah dieksekusi. Sebab, menurutnya, pengamanan yang ekstra ketat ala Singapura, tidak mudah ditembus oleh siapapun. “Jangan-jangan, dia sudah meninggal atau dieksekusi,” kata bekas pembelanya (Batam Pos, 29/2).

Inilah hebatnya Singapura. Menjelang hajatan besar, mereka perlu mensterilkan berbagai informasi agar negara pulau tersebut benar-benar dalam level top secure. Apalagi tahun ini mereka akan menggelar Formula 1 dan akan dikembangkan menjadi ajang wisata spektakuler. Hotel-hotel sudah fully booked, agen travel and tour memborong tiket masuk. Cuma, Batam latah minta limpahan pengunjung, padahal tak ada yang ditawarkan Batam bagi limpahan itu kalau terjadi.

Saya jadi curiga, jangan-jangan ini bagian dari skenario tertentu untuk menyerang Indonesia, khususnya Batam dan Tanjungpinang. Sebab, saat ini lagi heboh-hebohnya mempersiapkan kawasan free trade zone alias kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas di Batam-Bintan-Karimun. Atau, bisa juga Kastari benar-benar lari dari penjara dan masih bersembunyi di Singapura, sehingga untuk sementara (menjelang tertangkap kembali) disebutkan melarikan diri ke luar negeri (Indonesia). Maksudnya, supaya masyarakat Singapura tidak cemas dan negara itu tidak kacau (chaos) karenanya. Hmmm…entahlah.

Wisata Batam, Tanya Kenapa?

Hati saya sungguh trenyuh membaca berita bahwa pihak Departemen Keuangan RI menolak permintaan Kadis Pariwisata Batam R Muchsin. Beberapa waktu lalu, Muchsin mengusulkan agar calon penonton Formula 1 di Singapura akhir tahun ini yang melewati Batam, dikenakan sekali saja biaya masuknya. Maksudnya, untuk merangsang minat orang ke Batam, meskipun tujuan utamanya untuk nonton F1 di negara pulau itu.

Tapi, soal itu, janganlah terlalu sentimentil kita. Sebab, kita sudah tahu sejak lama bahwa daerah ini (Kepri) tidak akan pernah benar-benar memperoleh kesitimewaan dari Jakarta. Lihat sajalah ketika kran ekspor pasir disumbat, dengan alasan merusak ekosistem. Padahal, pengawasanlah yang sebenarnya tidak berjalan, sehingga banyak aparat yang main mata di tengah laut. Lalu, tikus yang salah, lumbungnya yang dibakar.

Lihat juga ketika keistimewaan melalui PP 63/2003 yang mengakibatkan harga empat komoditi utama di Batam kembali menyentuh angka tinggi. Padahal, Batam sebelumnya dikenal sebagai surga belanja bagi penggila alkohol, elektronik, rokok, dan tentu saja mobil! Meskipun, untuk yang terakhir tidak boleh dibawa ke luar pulau. Toh, tetap saja orang luar Batam berbondong-bondong membeli mobil eks Singapura, lalu menyimpannya di Batam untuk sewaktu-waktu dapat mereka gunakan. Artinya, mereka akan sering ke kota ini, sekadar memanaskan mesin mobilnya.

Kemudian yang paling gress adalah masih terkatung-katung dan kian tak menentunya penerapan free trade zone (FTZ) alias kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas di Batam, Bintan, dan Karimun. Entah alasan apalagi hoi, Jakarta. Berilah kami alasan yang lebih simpel dan tidak berbelit-belit. Perppu sudah, PP sudah, lalu UU pun sudah. Kini, membentuk Dewan Kawasan (DK) saja susahnya setengah mati. Bahkan ada yang bilang harus nunggu Dewan Kawasan Nasional segala. Padahal, dulu kalian-kalian berjanji FTZ BBK akan jadi model di negeri ini. Kalau modelnya saja belum ada, bagaimana mungkin harus nunggu DK Nasional? Ah, ada-ada saja.

Jadi, kalau R Muchsin mengeluh, tak usahlah. Simpan saja dalam-dalam. Buat saja apa yang bisa Anda buat untuk mengembangkan pariwisata di kota ini. Sekarang pertanyaannya, kalau orang berbondong-bondong datang ke Batam ingin menikmati pariwisata, apa yang akan Anda berikan? Apa tawaran Anda? Fasilitas apa saja yang sudah Anda siapkan untuk mereka? Apakah Anda hanya akan menawarkan kegersangan kota dan matinya taman-taman? Lalu, adakah seni dan budaya yang akan Anda suguhkan? Jadi, tanya kenapa?***

RUPS Sukses, Mendaratpun Mulus

Hmmm…capek juga ikut RUPS di Medan (26-27 Februari). Bukannya karena ikut mempertanggungjawabkan kinerja perusahaan, tapi lebih karena suasana yang kurang nyaman di Medan. Maklum, kota terbesar di Sumatera itu, selain sangat sibuk, lalu-lintasnyapun lumayan semrawut. Habis itu, bandaranya pun tengah direnovasi, sehingga kenyamanan pun terganggu.

“We are apology for this inconvenient” Begitulah tulisan yang banyak terpajang di dinding-dinding bandara, di beberapa sudut. Maksudnya, pengelola minta maaf atas semua ketidaknyamanan yang ditimbulkan. Maklum, bandara tersebut pernah terbakar beberapa aktu lalu. Tentu saja ini menimbulkan ketidaknyamanan.

Kalau sebelumnya Polonia terkenal dengan kesemrawutannya, kini masih ditambah situasi pascakebakaran, maka bertambah lengkaplah ketidaknyamanan itu. Ruang tunggu di luar bandara hanya dilengkapi dengan tenda raksasa. Orang hilir-mudik di sana, berbaur dengan pedagang asongan, seperti kacamata, voucher isi ulang, dan penjual bika ambon di sisi tenda. Pokoknya, mirip terminal bus, ha..ha..

Situasi ini masih ditambah dengan posisi bandara yang masih berada di tengah kota. Ingat ketika dulu terjadi kecelakaan Mandala? Nah, saya pergi-pulang Batam-Medan menggunakan pesawat Mandala itu. Maka, sepanjang perjalanan di atas pesawat Airbus A320 itu, jantung saya berpacu cukup kencang. Sebab, tak lama setelah kecelakaan dulu, saya sempat ke Medan dan masih melihat sisa-sisa insiden yang merenggut Gubernur dan mantan Gubernur Sumut, beberapa tahun lalu itu.

Suasana hampir sama saya jumpai pula di dalam ruang check in dan ruang tunggu. Semua penumpang berbaur di ruangan yang tidak terlalu besar. Kata seorang penumpang yang berada dekat saya menunggu panggilan pesawat, ruangan yang kami duduki itu dulunya tempat lalu-lalang calon penumpang. Nah, di ruangan itulah kini dijadikan ruang tunggu sekaligus tempat check-in counter. So, bisa dibayangkan betapa “ketidaknyamanan” selama menunggu anouncement dari petugas bandara itu.

Trus, ketika saya ke toilet, suasana kacaupun terlihat jelas. Lantai toilet kotornya minta ampun. Jejak alas kaki penumpang tercetak meninggalkan lumpur yang tak enak dilihat. Mestinya harus sering dikeringkan supaya tak terlihat kotor. Ya iyalah, meskipun habis kebakaran, namun kenyamanan penumpang tetap harus dijaga bukan?

Beruntung Mandala tidak delayed seperti ketika berangkat dari Batam, Senin lalu. Waktu itu, hampir setengah jam penerbangan dimundurkan. Nah, kembali ke Batam kemarin, tak satu menitpun terlambat. Mendarat di Hang Nadimpun mulus-mulus saja. Tak seperti ketika mendarat di Polonia, karena pesawat sempat berputar-putar sebelum mendarat dengan agak hard landing. Dalam hati saya berpikir, mungkin karena pengaruh kebakaran hutan di Riau, selain memang lokasi bandara yang berada di tengah kota, sehingga susah untuk didaratkan dengan mulus. Ini pikiran saya yang awam ini, he..he…

Syukurlah, waktu RUPS kemarin, pertanggungjawaban manajemen Batam Pos, di mana saya sebagai salah satu pimpinannya, dapat diterima secara mulus. Ya iyalah, sepanjang 2007, pencapaian Batam Pos lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Dalam hati, saya bangga juga, karena sejak 2006 sampai akhir 2007, saya menjabat pemimpin redaksi di koran terbesar di Kepulauan Riau itu.***

Lagi Posting, Mega Mall Mati Lampu

Lucu juga kalau dipikir-pikir, mall sebesar Mega Mall kok bisa black out alias mati lampu? Itu terjadi ketika saya baru saja mulai surfing internet di Godiva Cafe mall tersebut. Tak tanggung-tanggung, mati lampunya lebih dari setengah jam. Belum dikonfirmasi soal apakah mall di Batam Center itu punya genset atau tidak. Pastinya punyalah, ya? Cuma, mati lampunya kok lama?

Anehnya, di sisi sebelah Barat dekat Exellso, lampunya tak mati pula. Apa mungkin karena sedang acara festival band Piala Kapolda, ya? Mungkin juga daya yang tersedia di Mega Mall kurang, tapi takut mematikan di sekitar arena festival band. Lha, wong ngadain acara polisi, kok, hehehe…

Setelah beberapa saat, lebih dari satu jam, barulah menyala kembali. Waktu itu saya dan istri kedatangan teman, Hamdan, dan keluarganya. Mereka kemudian ikut bergabung minum-makan di sana.

Sambil posting, saya chatting dengan teman lain yang bermarkas di Tiban. Asyik juga memposting sambil makan-minum, meskipun awalnya sempat kesal juga karena mati lampu itu.

Oh ya, di saat hampir bersamaan, sebenarnya saya diundang ikut pertemuan kopi darat para blogger di Batam, di sebuah restoran di Batam Center. Tapi saya sudah sudah minta ke sahabat saya, Ramon dan Citra untuk minta izin. Pasalnya, saya harus menemani istri juga ujian skripsi di sebuah kampus. Setelah itu barulah saya ke Mega Mall itu.***

Terima Faks dari Konsulat AS

Kamis pagi (21/2), saya ditelpon seorang petugas kantor Konsulat Jenderal AS di Medan. Katanya, dia akan ngirim faks yang harus saya isi dan segera di-replay ke dia hari itu juga. Tenggatnya pukul 14.00 WIB. “Maaf lo, Pak, agak mendadak. Tapi memang harus hari ini difaks kembali karena besok akan langsung diseleksi,” kata seorang wanita di ujung telepon.

Saya kemudian ingat bahwa beberapa waktu lalu, saat masih menjabat pemimpin redaksi di Batam Pos, saya kedatangan tamu dari Konsulat AS di Medan. Ya, dialah Sean B Stein, konsul AS yang bermarkas di Medan. Sabtu itu, saya berdiskusi hampir dua jam dengan pria berpenampilan rapi tersebut. Kami bertukar pikiran tentang banyak hal. Soal terorisme, soal pandangannya terhadap Indonesia, tentang kenangannya berada di Surabaya, tentang FTZ BBK, bahkan tentang pandangan saya terhadap ekonomi Indonesia dan dunia.

Menjelang kepergiannya dari kantor saya di lantai 2 Graha Pena Batam, saat itu, dia menjabat erat tangan saya, sambil berkata, “Kami setiap tahun mengadakan program kunjungan ke Amerika diselingi semacam kursus singkat. Dan saya akan merekomendasikan Anda sebagai salah satu kandidat untuk pergi ke negara kami. Tentu, nanti akan ada seleksi lagi,” katanya. Tak lama kemudian, saya mengantarnya ke lantai satu. Sebuah mobil sedan milik sebuah hotel segera membawanya dari Graha Pena.

Nah, itulah sebabnya kemarin saya menerima faks yang harus saya isi dan segera dikirimkan ke Medan, pada pukul 14.00 WIB itu. International Visitor Leadership Program (IVLP) Nomination Form FY2009, begitulah nama faks yang harus saya isi. Tentu saja ada beberapa point yang harus diisi secara jujur. “Kalau Bapak terpilih nanti, artinya tahun 2009 Bapak akan diundang ke Amerika mengiktui program ini,” kata staf konsulat AS itu, setelah dia menerima balasan faks dari saya.

Hm… saya sebenarnya tidak begitu berharap ke Amerika melalui program tersebut. Sebab, tentulah saingan saya akan berdatangan dari berbagai daerah dan profesi di Sumatera, bahkan Indonesia. Namun, kalau seandainya nanti saya terpilih, paling tidak bisa menambah pengalaman saya setelah tahun 2006 lalu terpilih mengikuti kursus sejenis di Singapura. ***

Iklan Arsikon di Batam News

Tanggal 19 Februari, Arsikon Group akhirnya benar-benar memasang iklan mereka di Batam News. Sebagai langkah awal, ini bagus. Sebab, ketertarikan grup perusahan properti milik Ir Cahya beriklan di koran yang “terlahir kembali” itu, sebelumnya diutarakannya langsung kepada saya melalui SMS. Ini setelah melihat dialog saya dan teman-teman Batam News di Batam TV, beberapa waktu lalu. (Baca: Bos Arsikon Kirim SMS).

Awalnya, saya mengira Arsikon akan pasang iklan dengan jenis perumahan mereka yang paling murah, Odessa. Sebab, seperti disinyalkan oleh Cahya ketika bertemu saya dan teman-teman di kantornya, dia mengatakan bahwa akan menyesuaikan jenis iklan rumah dengan media tempat beriklan. Eh, ternyata, Arsikon malah memasan San Dona. Artinya, kelas Batam News tidak buruk kan? Apalagi kalau mereka tahu bahwa koran ini kini telah menjadi momok tersendiri di Batam. Korannya disebut berani dan memberikan liputan berbeda dengan koran yang sudah ada.

Ada beberapa rubrik di Batam News yang saya harapkan bisa menjadi andalan kami ke depan. Di antaranya White Colar di halaman 3. Di sini, saya berharap bisa menjadi halaman yang akan menjadi warning bagi para pejabat di sini untuk tidak main-main dengan uang rakyat. Sebab, kami akan memantau mereka. Selain itu, tentu kami juga memberi tempat bagi upaya pemberantasan korupsi di tempat lain, termasuk di pusat kekuasaan, Jakarta.

Halaman 3 yang berwarna ini, juga sekali sepekan kami sediakan untuk rubrik baru, Sehari Bersama… Di sini menceritakan aktivitas apa saja, mulai dari mereka bangun pagi hingga malam, tentang siapa saja, utamanya pejabat, public figure, artis, model, atau mereka yang dianggap layak. Demikian pula setiap hari Senin, kami akan memuat hasil polling terhadap berbagai hal yang tengah menjadi sorotan di Batam dan Kepri. Polling ini merupakan kerja sama Batam News dengan Kipas (Komite Independen Pemantau Aspirasi) melalui Sekjen Kipas Agus Setiawan, seorang penggiat demokrasi yang aktif muncul di media massa lokal, regional (Sumatera), dan nasional.

Demikian beberapa rubrik andalan kami. Selain itu, dari 16 halaman (8 warna dan 8 hitam-putih), kami masih memiliki rubrik andalan lain, misalnya: Chinese Square, Mom and Kid, Interactive, Sport News, Metro News, Business News, Blogger, dan tentu saja Celebrities. Pokoknya, komplit: dengan harga tetap Rp1.000. Oh ya, beberapa waktu ke depan, sudah ada sinyal bahwa beberapa operator telepon seluler akan bergabung untuk berpromosi di Batam News. Untuk pengaduan/berlangganan atau iklan, Anda bisa menghubungi 0778-7034113 atau 0778-7261000.***