Buku sampai ke Midai
30 Jan 2008 Catatan Biasa
Barusan adik saya, Linda, di Midai, Natuna, kirim SMS. “Bang, buku Abang laris-manis. Linda ikut nyebarkan buku itu ke kantor-kantor pemerintah di sini. Kini, di kedai kopi orang-orang bicara politik. Pasti buku Abang punya pasal. Selamat ya!”
Saya tersenyum membaca SMS tersebut. Mungkin terlalu berlebihan. Adik perempuan saya itu juga mengatakan bahwa seorang guru SMP saya, Pak Ibrahim Kirau, kirim salam ke saya. Katanya, itu murid saya dulu di SMP. Wah, jadi pembicaraan nih, he..he..he…
Sebelumnya, adik laki-laki saya, Indra, juga kirim SMS. “Bang, buku Abang laris. Banyak yang tak kebagian. Orang-orang pada minta dikirim lagi,” tulisnya. Memang, dulu waktu dia ke Batam, saya minta dia bawa 15 buku “Membranding Batam Menjual Kepri” yang saya tulis itu. Kini, buku tersebut sudah dapat diperoleh di Gramedia DC Mall dan BCS Batam.
Iseng, saya berpikir, wah, kalau nanti mau jadi legislatif tahun 2009, boleh juga tuh saya sebarkan di Midai dan kecamatan sekitarnya di Natuna. Siapa tahu bisa menjaring suara, ha..ha..ha…
Soal Midai, saya memang sempat miris memikirkannya. Bayangkan, tidak ada satupun anggota DPRD Natuna berasal dari daerah pemilihan Midai. Kalaupun ada, hanya di DPRD Provinsi Kepri, yakni Sofyan Samsir dan Fachmi Amri. Mereka yang di DPRD Natuna didominasi dari Bunguran dan Anambas. Sampai-sampai saya khawatir bahwa nanti plot pembangunan tidak akan mengalir sampai ke Midai, tanah kelahiran saya itu.
Yang saya dengar, waktu Pemilu 2004 yang lalu, beberapa caleg dari Midai berebut saling sikut. Padahal, jumlah pemilih di kecamatan seluas lebih kurang 10 KM2 itu tidaklah memenuhi BPP. Jadinya, Midai harus digabung dengan Serasan sebagai satu daerah pemilihan. Jadinya, karena caleg Midai sendiri berebutan dan suara terpecah, maka yang duduk akhirnya dari kecamatan lain.
Saya pernah curhat ke Bupati Natuna Daeng Rusnadi. Saya bilang, “Pak Bupati. Jangan karena tidak ada anggota DPRD dari Midai, lalu pembangunan di sana dilupakan atau sangat kecil”.
Bupati tentu saja membantahnya. “Siapa bilang? Banyak kok pembangunan di Midai. Terutama tahun 2007″.
“Tapi saya lihat pengumuman lelang di koran Posmetro, khususnya lelang Dinas Kimpraswil Natuna, sedikit sekali proyek untuk Midai. Hanya ada satu semenisasi tahun 2007 ini,” kata saya.
“Tidak betul itu. Sejak 2006 sudah banyak proyek fisik di sana. Jangan dilihat di satu dinas saja, masih ada proyek-proyek dinas lain seperti Dinkes, Disdik, Kelautan, dan lainnya,” tangkis Bupati. Hanya saja, karena tahun 2008 terjadi pemangkasan APBD Natuna oleh Pusat, pastilah kue pembangunan makin kecil di Natuna.
Saya coba cek ke beberapa kerabat di Midai dan mereka membenarkan bahwa di sana sudah cukup banyak proyek fisik dibangun Pemkab Natuna. Kalau jalan keliling kecamatan, paling tinggal sekitar 7 KM lagi. Sekolah dan berobat katanya gratis untuk seluruh Natuna. Yah, syukurlah. Tapi Midai harus tetap mendapatkan prioritas. Sebab, kecamatan tersebut memiliki sejarah tersendiri. Termasuk salah satu koperasi tertua di Indonesia, Achmadi & Co, pernah berdiri di sana. Bahkan, ketika mantan Wapres Bung Hatta pernah ke Midai tahun 1950-an, dia mengakui bahwa koperasi di Midai termasuk yang tertua di Indonesia. Hanya saja, karena kuatnya dominasi Pulau Jawa waktu itu, sehingga yang diakui sebagai yang tertua adalah salah satu koperasi di Pulau Jawa.
Kini, Midai terus berbenah. Sebagai putra daerah, tentu saya wajib memantau perkembangannya dari tahun ke tahun. Kalau ada yang menyimpang, tentu saya wajib pula meluruskannya. Ini semua demi tercapainya tujuan pembangunan itu sendiri, yakni menuju masyarakat makmur, adil, dan sejahtera (MAS), sesuai dengan Visi Natuna MAS 2020. Bukan begitu, Pak Bupati?
Anak Mulai Keranjingan Bola
29 Jan 2008 (Jangan Baca) Tebar Pesona

Ada yang menarik dengan anak pertama saya, Abin, (6 th), sejak beberapa bulan belakangan. Jangan tanya nama para pemain Liga Indonesia, dia pasti tahu. Kapan pertandingan disiarkan live di ANTV, dia juga tahu. Hanya saja, kalau ditanyakan di mana saja home base tim-tim tersebut, baru dia akan berpikir keras mengingat-ingat.
Entah mengapa dia jadi suka nonton pertandingan Liga Indonesia maupun Copa. Yang jelas, sejak stik PS-nya rusak dan TV di kamarnya ngadat, dia sepertinya mencari “pelarian” ke acara sepakbola. Memang, di kaset PS-nya ada beberapa permainan sepakbola, sehingga dia jadi keranjingan dengan sepakbola. Mungkin karena kesepian akibat stik PS dan TV-nya rusak, dia mencari sepakbola lain, dan ditemukannya di ANTV.
Setiap hari, pulang sekolah, pasti nonton, kecuali kalau tidak ada pertandingan. Kadang, karena capek pulang sekolah, dia nonton sambil tiduran, bahkan tak jarang terbangun lagi ketika pertandingan usai. Kalau sudah bangun, dia mencak-mencak, “Mengapa ayah tak bangunkan Abin? Kan habis tuh pertandingannya”.
Saya hanya tersenyum dan berkata, “Lho, ayah tidak tahu Abin ketiduran. Ayah juga baru pulang kantor nih. Bunda kali yang gak bangunkan Abin,” kata saya. Maklum, sepulang menjemput Abin dari sekolah, bundanya pun terlelap tidur karena kecapekan sehabis senam di gym. Biasanya baru bangun menjelang saya pulang dari kantor.
Melihat anak pertama saya yang mulai gila bola, saya teringat masa-masa awal menjadi wartawan, tahun 1993 hingga 1995 yang lalu. Saat itu saya memulai karir sebagai wartawan olahraga. PSPS Pekanbaru yang belum apa-apa, selalu saya ikuti perkembangan mereka. Ini meneruskan kebiasaan senior saya di Riau Pos, Ade Adran Syahlan. Dia memang lebih duluan setahun bergabung dengan Riau Pos di Pekanbaru. Juga sebagai wartawan olahraga. Sekarang kami sama-sama pimpinan umum di media. Bedanya, dia PU koran kriminal Posmetro Batam, saya PU di koran umum, Batam News, yakni koran berbahasa Indonesia yang diterbitkan PT. Sijori Interbintana. Perusahaan ini juga menerbitkan Batam Pos.
Soal anak sulung saya, saya cuma berharap, jangan sampai dia mengikuti jejak ayahnya menjadi wartawan. Sebab, kalau dia jadi wartawan, trus pindah-pindah tugas seperti saya, kan repot juga. Saya misalnya, setelah sebelas tahun jadi wartawan di Pekanbaru, baru mampu bangun rumah tahun 2004. Eh, belum sempat merasakan tinggal di rumah sendiri di Pekanbaru, sudah dipindah pula ke Batam, ha..ha… Untung di Batam disediakan rumah dan mobil milik perusahaan.
Bicara soal Liga Indonesia, memang sekarang kondisinya lebih menarik. Mulai enak ditonton. Tidak seperti dulu-dulu saat emosi penonton sangat mudah tersulut, pemainnya tempramental dan bisa meninju wasit. Korp baju hitampun mulai belajar dari banyak kesalahan. Kalau ada satu-dua insiden di lapangan, itu masih tergolong biasa untuk Indonesia yang penduduknya 220 juta. Tidak perlu terlalu dibesar-besarkan. Yang penting, ke depan, sepakbola Indonesia benar-benar harus menjadi tontonan mengasyikkan dan menghibur melintasi gender dan usia. Itu saja dulu. Soal prestasi, nantilah.***
Batal Nonton, Memposting sambil Cuci Mata
26 Jan 2008 (Jangan Baca) Tebar Pesona
Malam ini kebetulan saya tidak ada acara kantor, sehingga memutuskan ngajak istri ke Godiva Mega Mall. Kebetulan istri ngebet mau lihat saya memposting tulisan ke blog. Maklum, di rumah belum ada line telepon. Mau berlangganan internet ke operator, belum sempat. Jadinya, cuma sering ngenet di kantor atau tempat-tempat yang ada hotspotnya, gratis, ha…ha…
Tapi, sebelum ke Godiva, saya ajak dia keliling ke beberapa toko keramik. Ceritanya, mau renovasi rumah nih. Hm… kecil-kecil gini saya udah ngambil rumah tipe kecil di Batam Center, he..he… Lumayan untuk investasi. DP-nya saya peroleh dari tantiem tahun 2006 dari perusahaan dan profit sharing yang besarnya sangat lumayan. Sekarang masih tinggal di rumah milik perusahaan di Baloi.
Setelah mutar-mutar di beberapa toko keramik, dapatlah yang diinginkan. Cari-cari juga beberapa perlengkapan, seperti shower, lampu, dan water heater. Cuma, karena harganya belum cocok alias mahal, terpaksa ditunda, ha..ha..
Eh, di salah satu toko keramik, ketemu Raja Supri, kepala Dinas Pendapatan Kota Batam. Dia bersama istrinya. Kayaknya cari-cari keperluan rumah juga. Maklum, sebagai pejabat eselon II, dia kan disediakan rumah dinas. Mungkin beberapa bagian perlu dipoles dan direnovasi. Setelah berbasa-basi sedikit, kamipun sibuk dengan urusan masing-masing. Basa-basi menjadi wajib, karena dia juga paman istri saya.
Setelah itu baru kami ke Godiva. Wah, lumayan juga memposting sambil lihat cewek-cewek cantik. Walaupun istri ada di samping, tapi keinginan cuci mata tak pernah terlupakan….
Rencana awal sih, mau ngajak dia nonton ke 21 Nagoya Hill. Tapi, setelah dua hari sebelumnya nonton Otomatis Romantis yang dibintangi Tora Sudiro, Wulan Guritno, Marsha Tomty, dan Tukul, kayaknya filim lain pasti kalah menarik. Entahlah kalau ada film baru lagi yang berbobot?
Bakal Talkshow di Gramedia
22 Jan 2008 Catatan Biasa

Hari ini, dapat kabar menggembirakan dari Lisya Anggraini. Anggota Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Kepri itu menyebutkan bahwa manajemen Gramedia Batam City Square (BCS) sudah oke untuk memajang buku saya “Membranding Batam Menjual Kepri” di gerai mereka. Ini berarti Gramedia kedua yang bersedia menjual buku setebal 208 halaman tersebut setelah Gramedia DC Mall yang sudah memajangnya sejak setengah bulan lalu. Soal 208 halaman, memang seperti sengaja diset oleh penerbitnya, Rizal dan Ramon, serta Xocu, karena diluncurkan tahun 2008.
Mengapa mesti Lisya yang ngurus ke Gramedia? Ya jelas, karena dia adalah distributor daerah untuk buku-buku yang akan dipajang di Gramedia. Hebat juga akses anak buah saya di Batam Pos itu (sori ya, menyebut anak buah, walaupun usia Anda lebih tua dibanding saya, he..he..). Sebab, selain dia juga aktif di KPID, dia juga salah satu penulis di Kepri. Bahkan, bukunya sudah terbit sebelum buku pertama saya itu. Suaminya, Abdul Kohar Ibrahim (mirip nama saya, ya)
juga penulis aktif di dunia sastra.
Kabar menggembirakan kedua, ternyata pihak Gramedia minta saya melakukan talkshow di gerai milik mereka. Saat talkshow yang waktunya akan ditentukan nanti, maka buku saya akan didisplay lebih luas. Ada sesi dialog dan penandatanganan buku oleh saya untuk para pembeli saat talkshow. Hm… bakal jadi orang penting nih, ha…ha…
Memang, saat peluncuran pertama 1 Muharram 1429 H yang lalu di Batam Televisi, cukup banyak respons dari penonton. Salah satunya bahkan minta saya menulis lagi di kolom Batam Pos edisi Minggu. Namun saya sudah menjawab bahwa tidak akan menulis dulu untuk sementara. Sebab, kesibukan saya di Koran Batam News sudah cukup menyita waktu saya, ceileee…
Well, saya harus berunding lagi dengan Rizal, Ramon, dan Xocu (penerbit dari Forum Graha Pena Batam) untuk persiapan talkshow di Gramedia nanti. Waktunya mungkin awal Februari 2008. Selain itu saya juga harus mempersiapkan diri untuk tampil di depan umum, sebab pada dasarnya saya tidak pandai pidato. Kalau nulis, bolehlah, ha..ha… ***
Foto di atas saat talkshow peluncuran buku di Batam TV, 1 Muharram 1429 H. Ki-ka: Reynold (presenter), Hardi Hood (ketua Dewan Pendidikan Batam), Hendrik Anak Rahman (ketua KPID Kepri), dan penulis. F: Cipi Ckandina/Batam Pos.
Tugas Menantang di Batam News
22 Jan 2008 (Jangan Baca) Tebar Pesona
Sejak 1 Januari 2008 yang lalu, saya dapat tugas “memperkenalkan” Koran Batam News ke masyarakat Batam khususnya dan Kepri umumnya. Tentu, bersama teman-teman yang sudah bergabung lebih duluan di sana, misalnya Pemred Rizal Saputra, Manajer Iklan Dewi Febsuri, Redpel Yunus “Yos” Suchari, KL Ery “Lalok” Syahrial, disain iklan Ricky yang menggantikan Ibenk, serta beberapa rekan di pemasaran, iklan, dan tentu saja redaksi. Kini, ditambah dengan dua tenaga baru di jajaran pimpinan, yakni saya dan Manajer Pemasaran/Pimpinan Perusahaan Ismanto. Yang terakhir bukan orang lama. Sudah malang-melintang di dunia perkoranan jalanan, he..he…
Saya katakan memperkenalkan pakai tanda kutip, karena memang, dari hasil survey oleh Ripos Group Divre Batam, untuk kawasan Batam, Batam News memang belum dikenal masyarakat secara luas. Kalaupun ada, belum merata. Padahal, konon Batam News pernah sangat dikenal, terutama waktu terbit sore, pas ketika heboh-hebohnya berita kecelakaan Mandala di Medan. Bahkan pernah mencapai oplah cetak fantastis, belasan ribu eksemplar.
Itupun karena waktu itu perekonomian Batam masih booming dan persaingan media belum sekeras saat ini. Koran grup Gramedia belum terbit. Saat itu pula Sijori Pos edisi sore sudah tutup. Jadi, sebagai koran sore dengan harga jual seribu rupiah, Batam News benar-benar menemukan moment yang pas.
Kini, meskipun saya masih menjabat Wakil Pimpinan Umum Bidang Redaksi dan IT Batam Pos, namun sejak tidak lagi merangkap sebagai pemred di koran tersebut per 1 Januari 2008, saya sudah tidak lagi ikut campur urusan redaksional. Bagi saya, meninggalkan redaksi Batam Pos ketika
pencapaian kinerja perusahaan tengah membaik, merupakan sebuah prestasi. Walaupun tak ada yang memuji, ha..ha..ha…Sebab, dalam sebuah penerbitan media massa, semuanya saling berkaitan. Iklan mengalir bukan saja karena kepiawaian para pencari iklan, namun juga karena kepercayaan pemasang. Kepercayaan akan datang kalau koran itu dipercaya masyarakat. Koran dipercaya tentu karena kualitas beritanya serta jaringan distribusinya. Jadi, tidak ada yang paling menjadi hero dalam sebuah perusahaan, termasuk perusahaan pers.
Inilah salah satu filosofi yang akan menjadi modal saya dalam usaha untuk lebih memperkenalkan Batam News ke tengah masyarakat Batam dan Kepri. Team work atawa kerja sama tim menjadi kunci semuanya. Sebagai koran kecil, tentulah Batam News perlu kerja keras, sosialisasi, meningkatkan kualitas, dan perlu display yang bagus di mana-mana tempat. Karena Batam News dihadirkan sebagai mitra Batam Pos untuk berhadapan dengan kompetitor, tentulah misi Batam News menjadi amat strategis. Bertarung di tengah pasar yang makin kompetitif adalah sebuah tantangan yang akan memacu adrenalin. Sehingga, dengan dukungan manajemen serta kerja keras seluruh teman-teman di Batam News, saya yakin koran ini kembali bisa bangkit. Insya Allah.***
Dua Tahun Lagi ke Pekanbaru?
21 Jan 2008 (Jangan Baca) Tebar Pesona
Waktu ke Pekanbaru, 13-15 Januari yang lalu, sempat mampir ke kios ayah di Tuah Karya, Simpangbaru (Panam), Pekanbaru. Di sana, sebuah kios sengaja saya sewa dari kakak perempuan, lalu saya isi dengan berbagai kebutuhan sehari-hari. Lumayan, untuk menemani hari tua ayah yang sudah ditinggal mati oleh ibu sejak 2000 yang lalu. Soal sewa-menyewa kios dengan kakak sendiri, nanti dijelasin di bawah.
Nah, memang, sebelum pindah ke Batam 2005 akhir yang lalu, saya pernah berjanji untuk sedikit menyibukkan ayah dengan kios kecil. Terbayang oleh saya waktu itu adalah sebuah warung seperti serial Malaysia “Rumah Kedai” yang pernah populer di kedua negara, beberapa tahun yang lalu. Di situ diisi oleh kebutuhan harian, seperti mie instan, gula, minyak, sarden, rokok, cemilan, dan bermacam barang harian. Setiap bulan saya suntik dana untuk kedai agar ayah tetap bisa memetik manfaatnya. Maklum, ayah sudah tua, sehingga tidak bisa lagi bekerja keras. Cuma bisa menjahit kecil-kecilan dan nungguin kios itu. Saya tidak pernah bertanya sudah berapa keuntungan dari usaha ayah, sebab niat saya memang untuk membantu beliau. Supaya terhindar dari filosofi “memberi ikan”, maka
saya tidak membantu ayah dengan uang, tapi dengan cara mengisi kedai agar ayah tak merasa “dibeli” anak sendiri. Sebab, kalau begitu, ayah pasti akan sangat murka dan saya sangat sayang pada beliau.
Sebenarnya, kios saya buatin untuk ayah bukan tanpa “kompensasi” sama sekali. Sebab, ayah menempati dan memelihara rumah saya yang lokasinya tak jauh dari kios tersebut. Jadi, hitung-hitung sambil menjaga rumah, bisa nungguin kios, serta membantu keuangan keluarga beliau. Apalagi dengan istri mudanya, beliau sudah memiliki seorang anak serta seorang lagi dari suami pertama ibu tiri saya itu.
Nah, soal sewa-menyewa kios, sebenarnya itu bukan murni sewa. Masa sama kakak sendiri harus nyewa? Tidak. Toh, kios juga untuk menopang ekonomi ayah kami sendiri. Itu semata-mata untuk membantu keuangan kakak yang juga tidak bagus-bagus amat. Bekerja di sebuah apotek di Pekanbaru, tentulah gajinya tidak cukup untuk tiga anak, termasuk yang mulai sekolah di SMP. Sedangkan suaminya hanya pekerja kasar. Padahal dulu suaminya salah satu karyawan berhasil di PT Barito Pacific Timber. Setelah krismon, dia jadi korban PHK. Uang pesangon hanya cukup untuk beberapa tahun, walaupun pernah dijadikan modal usaha.
Waktu di Pekanbaru itu, saya kabarkan pada ayah bahwa saya kemungkinan masih akan bertugas di Batam sampai 2010. Itu kalau mengutip pernyataan bos saya di Riau Pos Group, Pak Rida, bahwa tugas saya di Batam News dua tahun ke muka. Artinya, setelah saya bertugas sebagai pemimpin redaksi di Batam Pos sampai akhir 2007, maka mulai Januari 2008 tugas saya bertambah di Batam News. Di Batam Pos saya tetap sebagai Wakil PU Bidang Redaksi dan IT, sebuah jabatan yang sebenarnya sudah saya jabat sejak Januari 2007. Artinya, setahun setelah saya menjabat pemred. Kini bertambah lagi sebagai PU di Batam News. Terbayang kan berapa gaji yang akan saya terima? Ha..ha..ha…
Mendengar cerita bahwa saya masih akan lama di Batam, ayah sedih. Sebab, dia membayangkan bahwa saya akan segera kembali ke Pekanbaru tahun 2008, sama seperti harapan saya. Namun, karena ini tugas yang diberikan oleh perusahaan, terutama Pak Rida, maka ayah ikhlas untuk berjauh-jauhan. “Asal pandai-pandailah menjaga kesehatan,” pesan ayah dengan mata berair. Saya memang anak yang paling dekat dengan ayah, karena latar belakang sejarah di keluarga kami. Soal ini nanti akan saya ceritakan dalam tulisan lain.
Ya sudah, tidak apa-apa. Kini saya agak lega karena adik laki-laki saya, Indra, mulai menemukan pekerjaan yang diminatinya. Dia kini mulai merintis usaha di bidang reparasi HP dan komputer di Midai, Natuna, tempat kami memulai segalanya, termasuk menghirup nafas pertama di dunia. Kemarin dia balik ke Batam terus ke Pekanbaru untuk cap jari ijazahnya. Dia memang telat lulus dari STM dan baru saja tahun lalu ambil ujian persamaan. Kini dia ada di rumah dan akan saya bekali dengan komputer seken supaya memudahkan usahanya. Saya kasihan karena sudah terlalu lama dia menjadi “benalu” di keluarga, tanpa kerjaan, luntang-lantung.
Cuma, yang membuat sedih, adik bungsu saya, Iwan, katanya mulai berubah. Dia tinggal di rumah saya bersama ayah. Tapi, malah lebih sibuk ngurus diri sendiri. Padahal saya titipkan ayah pada dia, meskipun ayah sudah ada yang ngurusi, yakni istri mudanya. Namun, saya tetap khawatir dengan ayah, karena beliau satu-satunya orang tua kandung yang masih tersisa. ***
Buku Itu
19 Jan 2008 Brain Washing
Judul : Membranding Batam Menjual Kepri
Penulis : Candra Ibrahim
Pengantar : Ir.H.M.Lukman Edy, M.Si, Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal
Penerbit : Forum Graha Pena Batam dan Kata Kita Jakarta
Penyunting : Rizal Saputra & Ramon Damora
Tata Letak : Xocu & Cyprianus Jaya Napiun
Desain Sampul : Iksaka Banu
Cetakan Pertama: Januari 2008
Tebal : 208 halaman
Tersedia di : Gramedia Batam


