2008, Tahun Seksi Dahlan-Ria
29 Feb 2008 Catatan Lepas
Malam tadi, saya nonton Batam Televisi (BTv) yang menyiarkan dialog Dua Tahun Dahlan-Ria menerajui Kota Batam. Sayangnya, Dahlan hanya tampil sendiri. “Pak Ria sedang di Balikpapan untuk memfinalkan persoalan data kependudukan,” kata Dahlan, di awal dialog yang dipandu Reynold Wahagheghe dari BTv itu.
Dua tahun menjadi wali kota tentu tak bisa dinilai apakah sudah berhasil atau belum. Waktu dua tahun belumlah cukup. Tapi bisa dijadikan semacam indikator ke depan apakah pasangan itu akan berhasil atau sebaliknya. Itupun hanya tersisa waktu efektif satu tahun saja, sebab dua tahun tersisa tentu harus ancang-ancang untuk periode selanjutnya. “Untuk satu periode saja saya tak pernah membayangkan. Dulu kawan-kawan yang mendorong saya,” tangkis Dahlan dalam dialog yang disiarkan secara live itu.
Secara kasat mata, Batam memang jauh dari sempurna. Setiap tahun masih dibayangi oleh berbagai masalah, seperti banjir, sampah, listrik, kependudukan, gepeng, fasilitas umum, kesehatan, kepariwisataan, infrastruktur, dan lain sebagainya.
Untuk banjir, kota ini masih terancam setiap hujan turun cukup lebat. Padahal, sebagai kota yang terletak di sebuah pulau yang terbuka dan dikelilingi oleh laut, mestinya ini tidak perlu terjadi. Sebab, logika sederhananya bahwa air akan mengikuti kodratnya: “mengalir sampai jauh, akhirnya ke laut”.
Trus, masalah sampah. Ini memang dilematis. Selain karena masih minimnya armada pengangkutan sampah di sini, ditambah rendahnya kesadaran penduduk yang kebanyakan adalah pendatang. Kaum urban dan penduduk sebagai akibat migrasi ke kota ini belum benar-benar bisa diajak bekerja sama membersihkan kota. Sikap skeptis sebagai pendatang temporer masih mewarnai sikap warga kota. Akibatnya, sense of belonging tak terasa. Celakanya, pemerintah belum mampu “memaksa” mereka untuk menjadi warga kota yang peduli.
Listrik demikian juga. Kapasitas listrik yang disuplai oleh PT PLN Batam boleh dikata masih mencukupi. Namun dalam tahun-tahun ke depan akan menghadapi masalah serius, terutama persoalan sumber bahan bakar. Gas yang semakin tinggi harganya akan membuat perusahaan listrik swasta itu menghitung ulang harga jual setrumnya ke masyarakat dan industri.
Soal lain tentu saja menyangkut kependudukan dan gepeng. KTP SIAK (sistem induk administrasi kependudukan) masih saja menjadi polemik, karena lamanya pengerjaan, mulai di tingkat kecamatan sampai ke dinas kependudukan. Teorinya dua minggu, namun bisa selesai berminggu-minggu. Kalau masalah gepeng alias gelandangan dan pengemis, itu penyakit sosial yang harus dituntaskan. Mau jadi kota tujuan wisata dengan gepeng yang berkeliaran, tentulah tidak elok dipandang mata.
Masalah lainnya, pariwisata. Sampai hari ini, belum ada objek wisata yang benar-benar dipersiapkan secara matang dan konseptual di sini. Apa yang akan disuguhkan bagi pelancong? Budayakah, keseniankah, makanankah, tari-tariankah, pemandangankah, ataukah hanya kota yang gersang, taman yang secuil dan hendak mati, aspal yang berlubang, dan segala yang sangat tidak menarik itu? Konkretnya apa? Mana program Dinas Pariwisatanya? Apa yang sudah dilakukan? Atau hanya studi banding dan sekadar jalan-jalan sambil membawa pihak-pihak tertentu yang sebenarnya tak lebih dari makelar acara?
Nah, uniknya, dari dialog Wali Kota Ahmad Dahlan di BTv itu, seolah-olah semuanya “baru” dimulai dibenahi atau diatasi tahun 2008 ini. Sebab, beberapa kali Dahlan mengucapkan, “Insya Allah, tahun ini…tahun 2008 ini kita mulai…” Tapi ada sedikit kalimat lain, “Alhamdulillah, tahun 2007 yang lalu kita sudah…”
Padahal, tahun 2008 sudah kita masuki beberapa bulan. Masa jabatan Dahlan-Ria tersisa hingga 2011. Tahun 2010 ada Visit Batam Year. Tahun 2008 ada Visit Indonesia Year. Oh, angka-angka, dikau memang seksi… tapi kami tak cukup seksi mempersiapkan diri.***



October 30th, 2008 at 11:13 pm
luar biasa…tulisan pak chandra…mengingat aku pada sebuah majalah remaja nasional..yg isinya sederhana..namun sarat dengan makna…
bravo Mr.Chandra…
October 30th, 2008 at 11:16 pm
terkadang kalo dengan sebuah templakan tidak mempan…kadang sindiran yg halus namun tajam tembus sampai ke jantung…lebih mempan..
pas dengan kondisi negara kita yg budaya malunya hampir hilang…