Semakin Suka Kerispatih

Entah mengapa, belakangan ini saya semakin menyukai lagu Kerispatih yang berjudul “Tapi Bukan Aku”. Iramanya, liriknya, mungkin juga pesannya gampang dicerna, terutama pada bagian refrainnya:
(Berakhirlah sudah semua kisah ini dan jangan kau tangisi lagi
Sekalipun aku takkan pernah mencoba kembali padamu
Sejuta kata maaf terasa kan percuma… aaa…
Serasa ku t’lah mati untuk menyadarinya…)

Terasa begitu mendayu-dayu. Mungkin juga karena saya harus “pergi” meninggalkan redaksi Batam Pos yang sudah saya pimpin sejak Januari 2006 yang lalu. Meskipun secara struktural saya masih membawahi redaksi, namun sebagai Wakil Pimpinan Umum Bidang Redaksi dan IT di Batam Pos, tentulah saya tidak akan intensif lagi mewarnai redaksi seperti dulu ketika merangkap sebagai pemimpin redaksi. Tentulah itu tugas yang harus dilaksanakan pengganti saya, sahabat saya, Hasan Aspahani. Saya tidak ragu dengan kemampuannya, sedikitpun tidak. Hanya saja, ada yang harus hilang dari kebiasaan saya, yakni begadang hingga dinihari setiap hari, haha….

Btw, ini lirik lagu Tapi Bukan Aku by Kerispatih:

Jangan lagi kau sesali keputusanku
Ku tak ingin kau semakin kan terluka
Tak inginku paksakan cinta ini… ii…
Meski tiada sanggup untuk kau terima

Aku memang manusia paling berdosa
Khianati rasa demi keinginan semu
Lebih baik jangan mencintai aku dan semua hatiku
Karena takkan pernah kan kau temui cinta sejati…

Berakhirlah sudah semua kisah ini dan jangan kau tangisi lagi
Sekalipun aku takkan pernah mencoba kembali padamu
Sejuta kata maaf terasa kan percuma… aaa…
Serasa ku t’lah mati untuk menyadarinya…

Tapi bukan aku… uo..u…

Semoga saja kan kau dapati hati yang tulus mencintaimu
Tapi bukan aaaakuuuu…

Berakhirlah sudah semua kisah ini dan jangan kau tangisi lagi
Sekalipun aku takkan pernah mencoba kembali padamu
Sejuta kata maaf terasa kan percuma…
Serasa ku t’lah mati untuk menyadarinya…

Berakhirlah sudah semua kisah ini dan jangan kau tangisi lagi
Sekalipun aku takkan pernah mencoba kembali padamu
Sejuta kata maaf terasa kan percuma
Serasa ku t’lah mati untuk menyadarinya…

Tahun Baru, Tugas Baru

Pukul 10.00 WIB tadi pagi, Jumat (28/12), saya dan seluruh pimpinan media di Grup Batam Pos atawa Grup Riau Pos Divre Batam, mengkuti rapat yang dipimpin CEO Riau Pos Group Pak Rida K Liamsi. Pemberitahuan yang agak mendadak membuat saya terburu-buru datang ke kantor. Meskipun isyu akan ada rapat dengan Pak Rida sudah saya dengar sejak kemarin. Namun, pemberitahuan resminya barulah tadi pagi saya terima dari staf PO Divre Batam bernama Siska.
Isinya rapat yang dipimpin Pak Rida didampingi PO Divre Batam Pak Marganas Nainggolan itu, banyak kejutan. Intinya, big boss kami di Jawa Pos, Pak Dahlan Iskan, meminta Pak Rida menjalankan berbagai kebijakan grup untuk tahun 2008 mendatang. Salah satunya, grup-grup media yang tersebar di berbagai daerah diminta untuk terus mengembangkan bisnis mereka, termasuk di antaranya memberikan perhatian lebih terhadap media online. Sebab, ke depan, siapa yang bisa mengira bahwa orang masih mau bersusah-susah membaca koran, kalau di media internet sudah tersedia informasi yang sangat beragam dan lengkap.

Nah, sebagai salah satu penjabarannya, menurut Pak Rida, perlu dilakukan berbagai perubahan organisasi dan pengurus di berbagai media di Grup Riau Pos, termasuk di Divre Batam. Nah, saya yang sejak Januari 2006 menjadi pemimpin redaksi di Batam Pos lalu sejak awal 2007 merangkap Wakil Pimpinan Umum Bidang Redaksi dan IT, mulai 2008 ini tidak lagi menjadi pemimpin redaksi. Posisi saya digantikan Hasan Aspahani yang sebelumnya pemimpin redaksi di Posmetro Batam, koran kriminal. Walaupun sebelumnya Hasan pernah menjadi wakil pemimpin redaksi di Batam Pos sekitar 2006.

Tugas saya menjadi amat berat di tahun 2008 ini. Sebab, meskipun tidak lagi menjabat pemimpin redaksi di Batam Pos, namun posisi Wakil Pimpinan Umum Bidang Redaksi dan IT Batam Pos tetap berada di pundak saya. Nah, yang membuat tanggung jawab itu semakin terasa berat adalah tugas baru saya kelak, per Januari 2008 merangkap sebagai Pimpinan Umum Batam News pula. Hmm…Wakil PU di Batam Pos sekaligus PU di Batam News. Tentu sebuah kerja berat sekaligus menantang.

Tapi, itulah tugas dan kepercayaan yang diberikan Pak Rida. Seberat apapun, harus saya jalani. Cuma, yang membuat saya agak tersenyum, itu tandanya saya tidak perlu lagi begadang setiap malam yang sudah saya lakoni sejak pertengahan tahun 1990-an lalu, ketika mulai bergabung dengan Riau Pos di Pekanbaru. Sebab, nanti saya ‘kan tidak lagi ngurusi redaksi yang memang dead line pekerjaannya saban malam hingga dinihari. Namun, saya harus banyak belajar. Belajar kepada mereka yang lebih senior di bidang ini, yakni kepada Pak Rida, Pak Marganas, Ade Adran Syahlan (PU Posmetro Batam), dan tentu saja Pak Socrates, PU Batam Pos. Mudah-mudahan saya tidak mengecewakan mereka semua. Amin.

Catatan: Nampaknya, Ahad nanti (30/12), adalah edisi terakhir saya membuat Catatan Lepas di Batam Pos setiap edisi Ahad. Ini sudah saya sebut beberapa kali kepada Rizal dan Ramon, dua sahabat saya yang bertanggung jawab atas usaha menerbitkan buku kumpulan Catatan Lepas saya “Membranding Batam, Menjual Kepri”. Selanjutnya, saya hanya akan lebih banyak menulis di blog ini. Saya sudah cek ke Jakarta, katanya sudah selesai dicetak. Mudah-mudahan beberapa hari ini sudah sampai di Batam.

Negeri Bencana?

Waktu membahas apa judul headline yang pas untuk Batam Pos terbitan Kamis (27/12/2007), kami (saya, wapemred, dan redpel) berdebat cukup panjang. Akibat musibah beruntun yang melanda negeri ini, seperti longsor di Solo, banjir di Jateng, Kalimantan, Sumatera, dan beberapa wilayah lain, rasanya memang enak membuat judul “Indonesia Negeri Bencana”. Persis seperti diungkapkan Deputi Direktur Walhi (Wahana Lingkungan Hidup) Farah Sofa.


Dalam catatan Walhi, selama 2007 ini Indonesia dihajar serangkaian musibah. Pada 8 Januari lalu misalnya 13 orang tewas terkubur tanah longsor di Padang Pariaman, Sumbar, lalu pada 11 Januari di Tahuna, Sulawesi Utara ada 11 orang yang tewas. Ini disusul banjir besar di Jakarta pada Februari dan beberapa saat kemudian tanah longsor di Magelang, Jawa Tengah dengan 7 orang tewas.

”Ini benar-benar jadi negeri bencana jika tidak segera bertindak. Apalagi kita masih dalam suasana konfrensi perubahan iklim,” lanjutnya. Hitung-hitungan kasar Walhi menunjukan 83 persen wilayah di Indonesia rentan terhadap bencana.

Sebagai sebuah media, memang enak memakai judul “Indonesia Negeri Bencana” itu. Kesannya, garang, dan pembaca pasti suka. Namun, saya beri keyakinan kepada teman-teman saya di redaksi bahwa judul seperti itu hanya akan menjejas bangsa sendiri. Judulnya yang amat skeptis dan memvonis negeri sendiri. Seolah-olah negeri ini benar-benar sedang mendapat kutukan dan menjadi hopless, tak punya harapan. Kalau judulnya begitu, ya, keluar saja kita dari negeri ini dan menjadi negeri lain yang lebih aman.

Akhirnya, untuk tidak berusaha menutup-nutupi kenyataan, maka judul akhirnya diubah menjadi “75 Terkubur Hidup-hidup”. Persoalan kemudian bahwa itu merupakan tragedi dan bencana sehingga menewaskan puluhan orang, ya, begitulah kenyataannya. Namun dengan memberi titel bahwa negeri ini adalah “negeri bencana”, sepertinya kita telah memvonis “kesialan” Indonesia sebagai sebuah bangsa. Dan kita menjadi semakin nelangsa sebagai warga negeri bernama Indonesia ini. Bukan begitu?

Pemanasan dari Dompak

Malam ini, dua orang teman menelpon saya. Satunya di Solo, ngakunya lagi “jualan bakso”. Walaupun saya tahu dia bukanlah sekelas itu. Kalaupun benar, bakso yang dijualnya pastilah berlokasi di mal terkenal atau punya gerai besar di kota itu. Sebab, selama ini dia dikenal sebagai pengusaha sukses di daerah.

Teman yang kedua entah sedang berada di mana, sebab saya pun tak menanyakannya. Kalau ditanyapun jawabannya entah betul entah tidak. Bisa saja dia sebut lagi di Jalan Sudirman, cuma entah Sudirman Jakarta, Pekanbaru, atau Batam (eh, di Batam, ujung 2007 ini baru mulai kenalkan nama jalan, karena selama ini lebih suka pakai komplek, sehingga sering amat membingungkan perusahaan jasa ekspedisi seperti kantor pos atau jasa titipan).

Hanya saja, pembicaraan keduanya sama: soal proyek multiyears Pemprov Kepulauan Riau (Kepri) yakni pembangunan komplek pusat ibukota provinsi di Pulau Dompak, Kota Tanjungpinang. Mereka sama-sama mendengar akan ada demo keesokan harinya (Kamis, 27/12/2007). Penggeraknya, disinyalir dua tokoh masyarakat Kepri. Sebab, kedua tokoh itu, satunya tokoh pejuang pembentukan provinsi, satunya tokoh sebuah LSM, dalam beberapa waktu belakangan getol menolak ide pembangunan di Dompak. Mereka kerap bicara di media lokal. Alasan mereka, pembangunan SDM dan kesejahteraan masyarakat jauh lebih penting dibanding membangun pusat ibukota.

Hanya saja, Gubernur Kepri Ismeth Abdullah tentu punya alasan lain. Sebagai provinsi yang baru terbentuk 2004 lalu, daerah ini perlu melengkapi berbagai sarana. Gedung DPRD selama ini nyewa, kantor gubernur numpang, dinas-dinas pun banyak yang numpang di eks kantor Kabupaten Bintan, Tanjungpinang, bahkan ada yang numpang di kantor milik Otorita Batam. Istilahnya, Kepri perlu memiliki sebuah icon, mirip yang tengah dibangun oleh Natuna dengan proyek Gerbang Utaraku di Ranai. Dengan dibangunnya Dompak, maka pusat pertumbuhan di pulau Bintan itu akan merata dan membentuk segi empat baru, yakni Tanjungpinang kota, Senggarang (pusat pemerintahan Kota Tanjungpinang), Bintan Buyu (pusat pemerintahan Kabupaten Bintan), dan Dompak.

Pertimbangan lain, mungkin, karena wilayah kerja provinsi sebenarnya tidaklah benar-benar nyata, sepertinya lebih abstrak. Sebab, untuk pembangunan SDM dan kesejahteraan masyarakat di daerah, bukankah sudah ada di APBD kabupaten/kota masing-masing? Paling provinsi hanya mem-back-up melalui sharing anggaran saja. Itupun provinsi sudah mengalokasikan sekitar 20 persen anggaran pendidikan, sesuai perintah UU Sisdiknas yang baru. Wilayah kerja provinsi, ya meliputi dinas, instansi, badan, atau biro di level provinsi sendiri.

Nah, di mata dua teman saya itu, aksi penolakan yang dilakukan sejumlah tokoh tadi, sebenarnya kurang tepat dari segi waktu. Mengapa bukan dari dulu ditolak, misalnya ketika tim survey mulai meneliti kelayakan Dompak? Mengapa ketika rancangan peraturan daerahnya sudah disahkan menjadi Perda oleh DPRD Kepri? Mengapa pula tidak nanti saja, ketika mereka melihat kejanggalan pada pelaksanaan proyek itu kelak di lapangan.

“Tak zamannya lagi demo-demo. Nanti kalau sudah berjalan, lihat saja, ada tak penyimpangan. Kalau ada, langsung lapor ke KPK saja,” kata teman “si penjual bakso” itu. “Jangan-jangan karena kepentingan mereka tidak diakomodir,” sindirnya.

Teman satunya lagi senada. “Kita bingung, sebenarnya motivasi mereka menolak itu apa? Sebab saya dengar di antara mereka ada yang proyeknya kalah di tender. Padahal, fee sudah diterima dari calon kontraktor. Kalau begitu, penolakan ini motifnya sakit hati,” katanya.

Saya tak berani menyimpulkan apapun dari pembicaraan saya dengan dua teman di atas. Sebab, sebagai seorang tokoh penting di Kepri, tentulah si penolak punya pertimbangan matang ketika melakukan wacana penolakan tersebut. Di matanya, konon, kesejahteraan rakyat lebih penting dibanding membangun kantor gubernur dan DPRD. Cuma saja, ada yang menduga, ini adalah buah dari persaingan masa lalu sekaligus pemanasan menjelang suksesi Gubernur Kepri tahun 2009 mendatang. Aha…kalau ini benar, tentu akan semakin menarik untuk diikuti. Apalagi, dengar-dengar, nama lain yang disebut-sebut akan bertarung pada suksesi nanti, ikut terlibat di belakang layar dalam aksi penolakan itu.***

tertawa-nyaringlah-lagi nak…

nak…
semalam kau mengigau
igau sebenar-benar igau
ibumupun tak bertanak
meski lambung ayah becekau

perutmu tak hendak melumat
karena sakitmu belum tamat
aku bingkas memelukmu erat
meski malam terasa lambat

di sini…
di rantau ini,
gelak tawa ceriamu
berdenyar…
celotehmu…
ba…ba…ba…
bu…bu…bu…
hu…..

nak…
meski terasa musykil
aku hendak mengumpat
mengumpat pancaroba ini
yang membuat nelayan tak berani melaut
dan menghempas lunas kapal penuh lumut

aku tahu salahku membiarkanmu
bermain ombak dan remis di pantai itu
sehingga…
kini kau tersadai di bilik yang dingin

nak…
tarik saja rapat-rapat selimutmu
tak usahlah menangis lagi
sebab aku sudah mereguk airmu
air yang membuncah ketika jarum-jarum jahanam itu menusuk nadimu
dan mengerat daging merahmu…
ibumu pun ‘tlah letih…
maka tertawa nyaringlah untuknya
untuk kesembuhanmu
untuk penawar luka batinku…

Kudedikasikan buat anakku, Naufal, yang terbaring di rumah sakit, semoga Allah SWT segera “mengembalikanya”.

Bekerja di Malam Idul Adha

Sedih juga ketika malam takbiran harus tetap masuk kerja. Bayangkan, ketika sebagian besar umat Muslim tengah mempersiapkan diri berhari raya Idul Adha besoknya, saya dan teman-teman di Batam Pos harus menggodok berbagai berita agar koran ini tetap terbit dan sampai ke tangan pembaca. Entah berapa jumlah pembaca kami ketika lebaran, he..he..he…

Tapi, begitulah risiko bekerja di media massa. Batam Pos yang sudah berkomitmen menjadi koran non-stop, meskipun hari besar keagamaan harus tetap terbit, kecuali saat Idul Fitri. Apalagi ini menyangkut komiten yang sudah dibangun dengan berbagai relasi, seperti pemasang iklan, pelanggan, dan sebagainya. Jadinya, walaupun istri dan anak-anak agak protes, saya tetap memimpin kawan-kawan redaksi bekerja seperti biasanya.Untuk menghibur keluarga, pagi tadi saya antar mereka ke Telagapunggur agar bisa lebaran di tempat neneknya, Penyengat, Tanjungpinang.

Hmmm…. Begitulah. Bukannya mau mengeluh. Sesungguhnya, sejak bekerja di koran tahun 1993 yang lalu, terkadang muncul juga rasa jenuh. Selama 14 tahun bekerja, lebih dari separuhnya saya bekerja pada shift malam. Maklum, bekerja sebagai pengasuh koran memang kebanyakan dilakoni malam hari hingga dinihari. Sebab, dead line koran biasanya memang pada waktu tersebut.

Suatu saat, saya membayangkan akan beristirahat mengasuh penerbitan. Maksudnya, saya tetap bekerja di sini, karena inilah keahlian saya satu-satunya, namun tak lagi masuk tiap malam. Kan enak, jadi pemred yang tugasnya hanya ngontrol dari rumah, dan besoknya bicara di rapat, mengevaluasi dan membuat proyeksi. Teman-teman saya yang juga pemred di koran lain, banyak yang begitu.

Tapi, itu belum bisa saya lakukan, karena saya termasuk orang yang penakut. Sebab, sebagai pemred, sesungguhnya satu kaki saya di alam bebas, satunya lagi di pintu penjara. Pasalnya, berita yang diterbitkn bisa saja suatu saat akan menimbulkan delik pers yang akan menyebabkan saya berurusan dengan hukum. Apalagi tidak semua penegak hukum di negeri ini memahami dan mau menggunakan UU Pers Nomor 40/1999 untuk menyelesaikan sengketa akibat pemberitaan. Masih banyak yang menggunakan KUHP peninggalan Belanda si penjajah itu.

Itulah sebabnya, saya belum bisa mempercayakan sepenuhnya koran yang saya pimpin kepada rekan-rekan di Batam Pos. Mekipun saya didampingi seorang wakil, namun kami semua adalah manusia yang tak sempurna. Dia juga bisa khilaf. Apalagi wakil saya itu, Ramon Damora, masih mudia usia. Kadangkala terlalu berani dan bersemangat. Jadinya, ya, setiap malam (kecuali Sabtu malam saya off ), saya pasti ada di kantor menemani rekan-rekan di redaksi. Kalau pimpinan di divisi lain kan tidak begitu. Cukup ngantor siang hari kayak pegawai kantoran, ha…ha…

Sepertinya saya harus segera mengakhiri catatan biasa ini. Sebab, kalau diteruskan, bisa ada yang tersingggung nanti. Padahal, sayalah yang mestinya lebih banyak tersinggung, sebab, sudahlah masuk tiap hari siang-malam, selalu saja ada yang komplain dengan pekerjaan saya dan teman-teman. Komplain dari luar maupun dari dalam, ha..ha..ha… Sudah ah. Makin jauh nanti. Selamat Idul Adha 1428 H, maaf lahir batin.***

Tolak Salaman, Bedah Buku CEO Jawa Pos Sukses

SIANG tadi, Selasa (18/12), saya mengikuti acara bedah buku Ganti Hati yang ditulis CEO Jawa Pos Dahlan Iskan, di Goodway Hotel, Batam. Menarik sekali mengkuti acara yang dikemas di sela-sela pelantikan dan seminar Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) Kepri itu. Pesertanya membludak, sehingga ruangan berkapasitas hampir 200-an itu meluber hingga ke luar. Apalagi mendengar gaya Pak Dahlan menjawab berbagai pertanyaan dari peserta, ditambah cerdiknya sang moderator Asmin Patros, anggota DPRD Batam, suasana jadi tambah hidup.
“Saya tak mau komentar, nanti kualat,” tolak Pak Rida K Liamsi, bos saya di Grup Riau Pos (Grup Batam Pos juga), ketika moderator memintanya mengomentari isi buku Ganti Hati tersebut. Maklum, Pak Dahlan adalah bosnya Pak Rida. Meskipun ketika di penghujung acara moderator kembali menodong agar Pak Rida berkomentar. Asmin cukup cerdik, karena nampaknya dia tak ingin melihat Pak Rida hanya menjadi pajangan ketika yang bersangkutan ikut diminta duduk menemani Pak Dahlan menanggapi berbagai pertanyaan.

Namun, Pak Rida tak kalah cerdik. “Komentar saya, memang tak salah tadi Pak Dahlan menyebut moderator ini hebat, sehingga bedah buku ini menjadi sangat menarik karena kelihaian si moderator. Itu saja komentar saya,” ucap Pak Rida. Namun tak urung beliau memberikan penilaian normatif bahwa buku Ganti Hati telah memberikn inspirasi bagi banyak orang di negeri ini agar lebih peduli dengan kesehatan, juga kepada wartawan agar selalu mengasah kemampuan jurnalistik dengan selalu memperhatikan detail tulisan.

Pagi sebelum acara dimulai, saya bertemu dengan Pak Dahlan di Graha Pena Batam. Saat itu, beliau sedang berdiri di basement dekat areal menghadap ke tempat parkir bersama bos saya di Batam Pos, Pak Marganas. Di samping mereka berdiri beberapa pengurus SPS Pusat yang saya tidak kenal namanya.

Saya baru saja memarkirkan kendaraan, ketika melihat Pak Dahlan asyik berbincang. Saya bergegas menghampiri beliau dan melempar senyum. Beliau membalas dengan tersenyum pula. Saya ulurkan tangan untuk menjabat. “Maaf, saya belum salaman,” tolaknya halus. Saya lalu memperkenal diri sebagai salah satu karyawan di grup yang beliau pimpin. Beliau mengangguk.

Perihal belum salaman, kembali diungkapkan Pak Dahlan ketika bedah buku siang harinya. Beliau mengikuti saran dokter yang merawatnya setelah operasi besar transplantasi hati di Tianjin, China, beberapa bulan berlalu. Sebab, kondisinya memang rentan terhadap virus yang bisa saja masuk. “Tak seorangpun yang bersentuhan phisik dengan saya kecuali istri,” kata beliau setengah bergurau.

Secara ringkas, acara bedah buku berjalan sukses. Saya, atas perintah atasan saya di Batam Pos, Socrates, memang mengerahkan seluruh redaktur pelaksana, koordinator liputan, dan beberapa redaktur untuk meramaikan acara dimaksud. Sebab, karena persiapan dan pemberitahuan kepada khalayak hanya dua hari, kami khawatir pesertanya tidak akan maksimal.

Ternyata, kami keliru, sebab banyak sekali peserta yang datang. Bahkan, boleh saya duga bahwa peserta pelantikan SPS lebih saparuhnya adalah mereka yang ingin mengikuti bedah buku yang ditulis oleh “orang gila” (gila kerja maksudnya) menurut istilah moderator Asmin Patros itu. Berita lengkapnya dapat dibaca di Batam Pos edisi Rabu (19/12/2007) atau klik di http://.batampos.co.id/. Selamat, Pak Dahlan. Semoga tetap sehat.***